Aksi Nyata Mahasiswa Magister UNTAN: Dorong Kemandirian Desa Parit Setia Lewat Transformasi Kesehatan dan Literasi

Majalahmataborneonews.com, Sambas-

Kelompok 4 Mahasiswa Magister Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura (UNTAN) sukses melaksanakan rangkaian kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) di Desa Parit Setia, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas. Kegiatan yang berlangsung secara intensif selama tiga hari, mulai tanggal 6 hingga 8 Februari 2026 ini, bertujuan untuk memperkuat tata kelola desa melalui integrasi layanan kesehatan, literasi, dan administrasi kewilayahan.

Bacaan Lainnya
iklan

Sinergi Program: Dari Kesehatan hingga Administrasi Spasial

Selama masa pengabdian, mahasiswa melakukan berbagai aksi nyata yang menyentuh akar permasalahan desa. Kegiatan utama meliputi sosialisasi Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) untuk mengenalkan transformasi layanan kesehatan bagi seluruh siklus hidup, mulai dari bayi hingga lansia. Guna mengukur efektivitasnya, tim melakukan pre-test dan post-test kepada kader dan pengurus PKK.



Selain kesehatan, mahasiswa melakukan intervensi fisik berupa penancapan papan nama gang di titik-titik strategis untuk menertibkan administrasi spasial desa. Tim juga menginstalasi “Pojok Baca” Tematik di kantor desa yang berisi literatur praktis tentang pertanian pekarangan dan kesehatan, serta memasang tanda larangan merokok di area pelayanan publik untuk menciptakan lingkungan yang sehat.

Lokasi Inspiratif dan Bersejarah

Desa Parit Setia dipilih sebagai lokasi pengabdian karena memiliki karakteristik sosiopolitik yang unik. Desa ini memiliki sejarah transformasi yang kuat, dari memori kelam tragedi “Ketupat Berdarah” 1999 menjadi desa yang sangat inklusif dan ramah melalui modal sosial seperti tradisi “Makan Saprahan”. Selain itu, adanya visi kuat dari Kepala Desa untuk mewujudkan “Desa Digital” dan “Desa Mandiri” menjadikan desa ini mitra strategis bagi mahasiswa Administrasi Publik.

Kolaborasi Multi-Pihak

Kegiatan pengabdian ini didukung penuh oleh sinergi multi-pihak yang melibatkan 11 mahasiswa Magister Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura, yakni Uray Ria Febriyani, Johni Astanto, Alifa Ihfazna Rafida, Nengsih Juniarti, Siska Uli Wulandari, Andri, Khairul Fahruzy, Verdy Aprizio Delgado, Rychard Instya Kurnia Putra, Grace Kurniati, dan Christian Arie Anwari. Di bawah bimbingan strategis Dr. Saherimiko, M. Si. serta supervisi ketat dari tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang dipimpin oleh Prof. Rusdiono, M.Si., tim pelaksana membangun kolaborasi intensif dengan otoritas wilayah, mulai dari Camat Jawai, Kepala Desa Parit Setia Bapak Erwanto, hingga seluruh jajaran perangkat desa. Kekuatan utama pengabdian ini terletak pada keterlibatan aktif Kader Posyandu dan Ibu-ibu PKK sebagai pilar penggerak masyarakat dan jembatan komunikasi yang memastikan program dapat diterima dengan baik oleh warga setempat.

Urgensi bagi Akademisi dan Desa

Bagi mahasiswa, PPM ini merupakan sarana krusial untuk mengimplementasikan teori Administrasi Publik dan Komunikasi Pembangunan secara langsung. “Kehadiran kami diharapkan menjadi trigger (pemantik) untuk menyadarkan pentingnya perubahan pola pikir sistematis dalam mengelola kesehatan dan literasi,” sebagaimana ungkapan tersebut didasari oleh ungkapan Kepala Desa kepada anggota kelompok 4.
Bidang Administrasi Publik dipilih karena sangat relevan dengan kebutuhan desa dalam menstandarisasi toponimi (penamaan wilayah) dan transformasi layanan publik berbasis digital. Manfaat yang dirasakan sangat nyata, di mana hasil post-test menunjukkan peningkatan pemahaman kader mengenai deteksi dini kesehatan, serta tersedianya fondasi fisik untuk identitas alamat warga yang memudahkan pelayanan publik.

Menjawab Tantangan dengan Pendekatan Partisipatif

Tantangan utama yang dihadapi adalah adanya kesenjangan “penyadaran” masyarakat terhadap standar modernitas pelayanan dan administrasi. Untuk mengatasinya, mahasiswa menggunakan metode Participatory Action Research (PAR), di mana warga tidak hanya menjadi objek, tetapi dilibatkan aktif dalam setiap proses, mulai dari gotong-royong penancapan papan gang hingga diskusi informal dalam suasana kekeluargaan.

Kegiatan diakhiri dengan penutupan hangat di kediaman Kepala Desa Parit Setia pada 8 Februari 2026, yang menandai penguatan kemitraan berkelanjutan antara universitas dan pemerintah desa demi kemajuan Kabupaten Sambas. (*)

Sumber dari : Uray Ria Febyani

iklan iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *