Majalahmataborneonews.com, Jakarta–
Ketua STIKES Kapuas Raya (STIKARA) Sintang, Dr. Uray B. Asnol, S.K.M., M.M., M.Kes., secara resmi membuka kegiatan Workshop Penyusunan dan Pengembangan Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE) pada Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, Rabu (15/7/2026) di Jakarta.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis institusi dalam melakukan transformasi akademik guna menyiapkan lulusan kesehatan masyarakat yang unggul, adaptif, dan memiliki dampak nyata bagi masyarakat, khususnya di daerah perbatasan dan kepulauan.
Dalam sambutannya, Dr. Uray B. Asnol menekankan bahwa workshop ini bukan sekadar kegiatan administratif untuk mengganti format dokumen kurikulum.
“Workshop ini merupakan bagian penting dari transformasi akademik STIKARA Sintang dalam memastikan bahwa seluruh proses pendidikan benar-benar menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi, karakter, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ketua STIKARA Sintang menyoroti kompleksitas tantangan kesehatan masyarakat saat ini, mulai dari beban ganda penyakit, masalah gizi, kesehatan ibu dan anak, hingga dampak perubahan iklim dan ketimpangan akses pelayanan kesehatan di wilayah perbatasan dan pedalaman Kalimantan Barat. Menghadapi tantangan tersebut, pendekatan Outcome-Based Education (OBE) dinilai sangat krusial. “OBE mengubah orientasi pendidikan dari pertanyaan, ‘Apa yang telah kita ajarkan kepada mahasiswa?’ menjadi pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu, ‘Kompetensi apa yang benar-benar dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan proses pendidikan?’” jelasnya.
Pengembangan kurikulum ini juga dirancang selaras dengan arah pembaruan Sistem Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2026. Menurut Dr. Uray, mutu pendidikan tidak lagi cukup dinilai dari tersedianya dosen atau kelengkapan administrasi, melainkan harus dibuktikan melalui hasil belajar mahasiswa, ketercapaian kompetensi lulusan, relevansi dengan kebutuhan masyarakat, serta dampak pendidikan terhadap pembangunan daerah dan nasional.
Visi STIKARA Sintang yang menekankan pada pelayanan masyarakat di wilayah perbatasan dan pedalaman menjadi fondasi utama dalam perumusan profil lulusan. Lulusan STIKARA diharapkan mampu bekerja di berbagai sektor, baik di fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintahan, dunia usaha, maupun langsung di tengah masyarakat dengan memahami karakteristik geografis dan sosial budaya setempat, namun tetap memiliki standar kompetensi nasional dan global.
Dalam arahannya, Dr. Uray menjabarkan enam karakter utama kurikulum yang diharapkan, yakni: (1) berorientasi pada capaian pembelajaran yang jelas dan terukur; (2) relevan dengan perkembangan keilmuan, regulasi, dan kebutuhan dunia kerja; (3) mengintegrasikan karakter, etika, dan literasi digital; (4) memberikan pengalaman belajar nyata melalui praktik lapangan dan berbasis proyek; (5) memiliki sistem asesmen autentik; serta (6) memiliki mekanisme evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.
Penyusunan kurikulum ini dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari mahasiswa, alumni, pengguna lulusan, organisasi profesi, hingga mitra pemerintah dan fasilitas pelayanan kesehatan. Di akhir sambutannya, Dr. Uray mengingatkan bahwa kurikulum adalah jiwa dari proses pendidikan untuk menyiapkan generasi kesehatan yang kompeten dan berdedikasi tinggi.
“Jangan engkau meninggalkan generasi yang lemah di belakangmu. Kita harus menghasilkan lulusan kesehatan masyarakat yang mampu berdiri teguh, berpikir ilmiah, bertindak profesional, bekerja dengan hati, serta berani mengambil peran dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” pungkasnya. (Nop)






