Pemkab Landak Kembangkan Jagung di Lahan Eks Sawit, Bupati Karolin Harap Panen Maksimal

Bupati Landak Karolin Tinjau Tanaman Jagung di lahan terlantar eks PT 13 yang dikelola Pemkab

Majalahmataborneonews.com, Landak – Pemerintah Kabupaten Landak memanfaatkan lahan eks perkebunan sawit yang sebelumnya terbengkalai untuk mengembangkan pertanian jagung. Salah satu lokasi yang tengah dikelola berada di Dusun Tenggalong, Desa Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang, tepatnya di areal bekas kebun milik PTPN IV Regional V.

Luas lahan yang telah ditanami jagung mencapai 5 hektare dari total 20 hektare yang tersedia, sebagai bagian dari program demonstrasi plot (demplot) yang dijalankan pemerintah daerah. Tanaman tersebut kini telah berusia sekitar dua bulan dan menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan meski berada di lahan yang tergolong kritis.

Bacaan Lainnya
iklan

Bupati Landak, dr. Karolin Margret Natasa, melakukan kunjungan langsung ke lokasi pada Rabu (6/8/2025). Ia meninjau pertumbuhan tanaman sambil memantau proses pemangkasan daun jagung.

“Lahan ini sebelumnya merupakan area sawit yang sudah diremajakan dan diperkaya kembali dengan pupuk organik. Ini adalah bagian dari uji coba yang kami harapkan bisa menjadi referensi bagi para petani,” jelas Karolin di sela-sela kunjungannya.

Ia menekankan bahwa pendekatan berbasis rehabilitasi lahan kritis memiliki potensi besar untuk dikembangkan, terutama jika dibarengi dengan teknik pengolahan tanah dan manajemen tanam yang baik.

Meskipun cuaca kering dalam dua pekan terakhir sempat menjadi tantangan, kondisi tanaman secara keseluruhan masih dinilai cukup baik. Jagung tumbuh dengan batang kokoh dan sebagian besar tanaman memiliki lebih dari satu tongkol.

“Kalau kondisi cuaca mendukung sampai panen nanti, kita perkirakan hasilnya bisa mencapai lima sampai enam ton per hektare,” ungkap Karolin dengan optimis.

Menurutnya, perbedaan karakteristik tanah dan ketinggian lahan seperti di wilayah Landak dibandingkan daerah lain seperti Bengkayang perlu diperhitungkan dalam pemilihan komoditas. Namun demikian, ia meyakini bahwa setiap wilayah tetap memiliki potensi asalkan dikelola secara tepat.

“Pertanian itu dipengaruhi banyak faktor, tapi hasil optimal bisa dicapai bila kita tahu cara menanganinya,” pungkas Karolin. (MB)

iklan iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *