Sekda Kalbar: Program Spesialis Untan Jadi Langkah Strategis Perkuat Ketahanan Kesehatan Daerah

Majalahmataborneonews.com, Pontianak – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyambut positif peluncuran Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis serta Program Studi Ilmu Farmasi Program Magister Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Tahun 2026 sebagai langkah strategis memperkuat pelayanan kesehatan dan pengembangan sumber daya manusia di daerah.

Peluncuran dan sosialisasi program studi tersebut dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., bersama Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, dr. Harisson, M.Kes., di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (19/5/2026).

Bacaan Lainnya
iklan

Kegiatan itu turut dihadiri Rektor Universitas Tanjungpura, jajaran Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, serta pimpinan dan perwakilan rumah sakit di Kalbar.

Dalam sambutannya, Sekda Kalbar menegaskan bahwa kehadiran dua program studi baru tersebut menjadi jawaban atas keterbatasan tenaga kesehatan spesialis di Kalimantan Barat, khususnya dokter anestesi.

“Kita semakin menyadari bahwa Kalbar harus bergerak maju dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan spesialis. Kita tidak boleh terus-menerus bergantung pada daerah lain,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tantangan pelayanan kesehatan di Kalbar masih cukup besar, terutama terkait distribusi tenaga dokter spesialis yang belum merata hingga ke wilayah perbatasan, pesisir, dan pedalaman. Berdasarkan data profil kesehatan Kalbar per Maret 2026, pemenuhan dokter spesialis anestesi baru mencapai 36,42 persen. Dari kebutuhan ideal sebanyak 115 dokter spesialis anestesi, saat ini baru tersedia 42 orang tenaga dokter spesialis anestesi.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif sangat dibutuhkan. Dokter anestesi merupakan garda terdepan keselamatan pasien dalam situasi kritis,” jelasnya.

Harisson berharap program pendidikan spesialis tersebut dapat melahirkan lebih banyak dokter putra-putri daerah yang memahami kondisi Kalimantan Barat dan siap mengabdi di daerahnya sendiri.

“Kita membutuhkan lebih banyak dokter spesialis yang dididik di tanahnya sendiri, memahami kondisi daerahnya sendiri, dan siap mengabdi untuk masyarakatnya sendiri,” katanya.

Selain itu, Program Studi Magister Ilmu Farmasi dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan riset dan inovasi berbasis potensi lokal Kalimantan Barat.

“Kalbar memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Sudah saatnya perguruan tinggi mengambil peran terdepan dalam membangun kemandirian riset, pengembangan obat berbahan alam, serta teknologi farmasi berbasis bukti ilmiah,” ungkapnya.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, lanjut Harisson, mendukung penuh berbagai terobosan strategis Universitas Tanjungpura dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan.

“Kami percaya investasi terbaik dalam pembangunan bukan hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi membangun kualitas manusianya. Pendidikan dan kesehatan adalah pondasi utama pembangunan daerah,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mengapresiasi lahirnya program studi baru di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura tersebut.

“Ini langkah besar dan strategis untuk daerah. Persoalan kesehatan kita bukan hanya kekurangan dokter, tetapi juga distribusi tenaga medis yang belum merata,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah pusat saat ini mendorong peningkatan jumlah tenaga kesehatan dari putra-putri daerah karena dinilai lebih siap mengabdi dan bertahan di daerah asalnya.

“Kalau dokter berasal dari daerah sendiri, pemerintah daerah tidak akan terus disibukkan dengan persoalan perpindahan tenaga kesehatan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Fauzan juga mendorong kolaborasi antarperguruan tinggi di Kalimantan Barat melalui pembentukan konsorsium pendidikan tinggi guna memperkuat riset dan pengabdian masyarakat.

Ia berharap program studi baru tersebut dapat berkembang menjadi penguatan pelayanan kesehatan sekaligus pusat pengembangan riset dan inovasi di Kalimantan Barat.

“Saya berharap program ini mampu melahirkan tenaga kesehatan yang berkualitas, memperkuat layanan kesehatan daerah, sekaligus menjadi pusat pengembangan riset dan inovasi di Kalbar,” tutupnya.

iklan iklan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *