Majalahmataborneonews.com, Bengkayang-
Kolaborasi Institut Teknologi Bandung dan Universitas Tanjungpura (UNTAN) menghadirkan Solar Dome Dryer plus pelatihan GMP di Desa Karimunting, Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat. Inovasi ini menjamin produk ikan kering higienis tahan cuaca sekaligus membuka akses pasar modern melalui pendampingan sertifikasi berkelanjutan bagi kelompok pengolah lokal.
Tim ITB dan UNTAN bersama warga Karimunting saat uji coba Solar Dome Dryer. Teknologi rumah plastik berbasis energi surya ini melindungi ikan dari kontaminasi debu maupun serangga selama proses pengeringan.
Penerapan Good Manufacturing Practice menjamin mutu produk tetap terjaga meski musim hujan tiba. Warga antusias mempelajari teknik sanitasi hingga pengemasan berstandar pasar modern.
Sinergi akademisi dan pemerintah desa ini menjadi fondasi hilirisasi perikanan berkelanjutan di Kalimantan Barat. Dokumentasi visual memperlihatkan transformasi metode konvensional menuju industri pengolahan pangan higienis yang siap bersaing secara nasional maupun internasional.
Aroma amis menguap perlahan di bawah kubah plastik transparan Dusun Sungai Soga. Rabu 5 Agustus 2026 menjadi titik balik bagi para perempuan pengolah ikan Desa Karimunting Kabupaten Bengkayang.
Mereka tidak lagi cemas menatap langit mendung sebab teknologi Solar Dome Dryer telah berdiri kokoh menggantikan jemuran terbuka tradisional.
Alat pengering berbasis energi surya ini memproteksi bahan baku dari debu serta serangga sekaligus mempercepat produksi tanpa tergantung cuaca ekstrem.
Dr Taufikurahman selaku Ketua Pusat Pemberdayaan Perdesaan ITB menegaskan bahwa program pengabdian masyarakat ini merupakan implementasi nyata Tridharma Perguruan Tinggi.
“Program Pengabdian pada Masyarakat ITB ini merupakan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi. Kami ingin hadir untuk memastikan Desa Karimunting tidak hanya jadi produsen ikan segar, tapi juga penghasil produk olahan yang bermutu dan siap bersaing di pasar,” kata Ketua P2D ITB Doktor Taufikurahman.
Kehadiran akademisi bertujuan memastikan desa tersebut bertransformasi dari sekadar produsen ikan segar menjadi penghasil olahan bermutu tinggi yang kompetitif di pasaran luas.
Ada Standar Mutu Pangan
Penerapan Good Manufacturing Practice menjadi jantung perbaikan kualitas produk perikanan lokal. Peserta workshop mendapatkan pemahaman mendalam mengenai sanitasi pemilihan bahan baku hingga strategi pelabelan yang memenuhi regulasi keamanan pangan.
H Afghani Jayuska M.Si dari Universitas Tanjungpura menjanjikan pendampingan intensif selama enam bulan ke depan mencakup uji mutu sampai persiapan sertifikasi PIRT dan Halal.
“Tim UNTAN akan melakukan pendampingan intensif selama 6 bulan ke depan. Mulai dari hulu produksi, pengemasan, uji mutu, hingga persiapan sertifikasi. Targetnya produk Karimunting bisa masuk pasar modern,” kata Ketua Tim UNTAN, H Afghani Jayuska, M.Si.
Target akhirnya ialah memasukkan komoditas Karimunting ke rak pasar modern melalui peningkatan daya saing yang terukur secara ilmiah.
Pendekatan humanis ini membangun kepercayaan konsumen sekaligus menaikkan nilai ekonomis hasil tangkapan nelayan secara signifikan tanpa meninggalkan kearifan lokal yang telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat pesisir Kalimantan Barat.
Kepala Desa Iskandar mengungkapkan rasa syukur mendalam atas sinergi lintas institusi pendidikan tinggi dengan pemerintahan setempat.
“Kami sangat bersyukur. Dengan Solar Dome Dryer ini ibu-ibu tidak lagi khawatir kalau turun hujan untuk mengeringkan ikan. Dengan pelatihan GMP, produk kami juga bisa lebih bersih dan dipercaya konsumen. Mudah-mudahan ini menjadi awal kebangkitan ekonomi desa,” kata Kepala Desa Karimunting H Iskandar, S.Pd.
Ibu-ibu pengolah kini memiliki jaminan kontinuitas produksi meskipun curah hujan tinggi melanda wilayah mereka.
Diskusi hangat antara narasumber dan peserta mengungkap berbagai kendala teknis yang sebelumnya tak terselesaikan secara mandiri. Kolaborasi ini bukan sekadar transfer teknologi melainkan penanaman mindset kewirausahaan berbasis sains untuk kemandirian ekonomi jangka panjang.
Fondasi hilirisasi perikanan berkelanjutan telah diletakkan melalui edukasi praktis yang menyentuh sisi manusiawi pelaku usaha mikro.
Transformasi struktural ini membuktikan bahwa riset akademik mampu menjawab tantangan riil di lapangan sekaligus memberikan harapan konkret bagi kesejahteraan komunitas marjinal di tepian negeri. (*)






