Majalahmataborneonews.com, Sambas-
Ketua Paguyuban Masyarakat Jawa Kabupaten Sambas, dr. H. Ganjar Eko Prabowo, M.M., mengecam keras dugaan aksi penyerangan yang dilakukan oleh 15 Warga Negara Asing (WNA) asal China di area pertambangan emas milik PT Sultan Rafli Mandiri (PT SRM), Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (14/12/2025).
Menurut dr. Ganjar, tindakan para WNA tersebut tidak dapat ditoleransi karena diduga berani melakukan perlawanan terhadap aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ia menilai peristiwa ini telah mengguncang rasa kebangsaan dan mencederai martabat serta kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. Penyerangan terhadap aparat TNI adalah bentuk penodaan serius terhadap kedaulatan dan kehormatan bangsa Indonesia,” tegas dr. Ganjar. Rabu (17/12/2025).
Ia menambahkan bahwa TNI merupakan simbol tertinggi kehadiran negara di tengah masyarakat. Oleh karena itu, setiap bentuk serangan terhadap prajurit TNI di wilayah Indonesia sama artinya dengan menantang kedaulatan negara.
“Menyerang prajurit TNI di tanah air sendiri sama dengan menantang kedaulatan negara. Ini adalah alarm keras bahwa kedaulatan harus ditegakkan tanpa kompromi,” ujarnya.
Lebih lanjut, dr. Ganjar menilai tindakan para WNA tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap marwah bangsa Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Menurutnya, kedaulatan Indonesia merupakan amanah suci yang diperoleh melalui perjuangan dan pengorbanan para pahlawan bangsa.
“Kedaulatan Indonesia diraih dengan cucuran darah dan air mata para pejuang. Ini adalah amanah suci yang wajib kita jaga dan pertahankan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa insiden di Ketapang telah mengoyak harga diri bangsa dan menjadi pengingat akan cita-cita luhur para pendiri bangsa yang menghendaki Indonesia berdiri sebagai negara yang berdaulat penuh, menjunjung tinggi hukum dan kehormatan nasional.
Terkait hal tersebut, dr. Ganjar menilai insiden ini menunjukkan adanya celah dalam sistem penjagaan kedaulatan, tidak hanya di wilayah perbatasan, tetapi juga pada sektor ekonomi dan sosial.
“Dengan kejadian tersebut, perlunya evaluasi menyeluruh serta penguatan persatuan nasional dengan melibatkan seluruh elemen bangsa,” jelasnya. (Nop)








