Majalahmataborneonews.com, Mempawah – Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menegaskan percepatan operasional penuh Terminal Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah sebagai langkah strategis mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam arahannya, Wagub menyoroti kerugian fiskal yang dialami Kalbar akibat belum optimalnya pelabuhan tersebut. Ia mendesak pemerintah pusat segera membuka akses jalan, baik melalui pembangunan jalan tol maupun jalur alternatif baru guna mengurai hambatan logistik.
“Kita sudah rugi banyak. Pencatatan hasil alam justru terjadi di daerah lain seperti Jakarta, padahal sumber daya berasal dari Kalbar. Saya tidak terlalu mempersoalkan status jalannya, yang penting akses segera dibuka,” tegasnya.
Wagub juga menyampaikan strategi percepatan dengan mendorong operasional penuh pelabuhan terlebih dahulu. Menurutnya, potensi kemacetan justru menjadi indikator meningkatnya aktivitas ekonomi sekaligus pemicu percepatan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah pusat.
“Kalau nanti macet, itu justru yang kita cari. Artinya ekonomi bergerak dan pusat akan terdorong untuk segera bertindak,” ujarnya.
Meski fokus pada Kijing, ia mengingatkan agar operasional Pelabuhan Dwikora tetap dijaga, mengingat kondisi Muara Kapuas yang dangkal berisiko menghambat distribusi kebutuhan vital seperti BBM dan oksigen medis. Pemprov Kalbar pun membuka peluang kolaborasi dengan investor untuk pengerukan alur sungai.
Wagub juga mendorong keterlibatan Bank Kalbar dalam ekosistem ekonomi Pelabuhan Kijing. Ia menilai, peran bank daerah penting untuk memastikan perputaran keuangan tetap berada di Kalbar serta memperkuat ketahanan ekonomi lokal.
Sementara itu, General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Pontianak, Yanto, menegaskan komitmen percepatan operasional penuh Terminal Kijing sebagai simpul logistik strategis yang terintegrasi dan efisien.
“Pelabuhan Kijing bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan Kalbar. Kita ingin arus barang lebih cepat, efisien, dan kompetitif,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, mulai dari konektivitas jalan, kesiapan kawasan industri (hinterland), hingga digitalisasi layanan kepelabuhanan. Integrasi tersebut diyakini mampu menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing ekspor daerah.
Pelindo juga merencanakan pengembangan infrastruktur, termasuk penambahan dermaga curah cair untuk mendukung komoditas CPO, pembangunan sistem conveyor terintegrasi, serta optimalisasi jaringan pipa guna meningkatkan efisiensi logistik secara menyeluruh.
Dalam kajian yang disampaikan, sekitar 75% biaya logistik berada di sektor darat. Oleh karena itu, integrasi kawasan industri dengan pelabuhan menjadi kunci utama, dengan mengacu pada praktik terbaik dunia seperti Port of Rotterdam, Jurong Island, dan Port of Busan.
Selain itu, kebutuhan pembangunan akses jalan tol menjadi krusial untuk menghindari bottleneck seiring meningkatnya arus kendaraan logistik.
FGD ini ditutup dengan kesepakatan penyusunan Minutes of Meeting (MoM) sebagai bentuk komitmen bersama antara pemerintah pusat, daerah, stakeholder, dan pelaku industri.
Dengan rencana pengembangan kawasan, termasuk pembangunan dua smelter tambahan oleh MIND ID, Terminal Kijing diproyeksikan menjadi hub logistik paling efisien di koridor ekonomi Kalimantan.







