Majalahmataborneonews.com, Sambas-
Di tanah yang dialiri Sungai Sambas yang tenang, justru bergejolak cerita panjang tentang janji yang tak kunjung ditepati. Layaknya sebuah naskah pembangunan yang robek di tengah halaman, proyek Waterfront di depan Istana Alwatzikhoebillah kini berdiri sebagai monumen bisu Mangkrak, tak terurus, dan terbiarkan menua bersama waktu. Di balik alunan air sungai yang mengalir sabar, warga justru melihat ketidakpastian yang menumpuk, seolah bayang-bayang korupsi kembali menelusup dalam senyap, tanpa arah penyelesaian.
Uray Alkaf, Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UNISSAS Cabang Sambas sekaligus putra asli yang tinggal di sekitar kawasan istana, angkat suara di tengah kabut ketidakjelasan itu. Ia mempertanyakan ke mana hilangnya komitmen pemerintah untuk menuntaskan pembangunan yang pernah diagungkan sebagai wajah baru wisata Sambas. Padahal sebelumnya pemerintah menjanjikan keberlanjutan proyek ini.
“Janji yang dulu lantang diucap kini terdengar seperti gema yang memudar di balik dinding birokrasi,” jelasnya.
Gubernur Kalimantan Barat, Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H., dalam kunjungannya ke Sambas pada 22 April 2025, telah menegaskan bahwa pembangunan Waterfront akan dilanjutkan dengan perencanaan yang matang. Namun hingga kini tidak ada tindak lanjut maupun informasi resmi mengenai progres pembangunan, sehingga janji tersebut menimbulkan keraguan dan kekecewaan di kalangan masyarakat.
Di sisi lain, akses jalan menuju Istana Alwatzikhoebillah justru semakin memprihatinkan. Jalan berlubang, rusak, dan menjadi becek ditambah musim hujan melanda membuat kawasan itu sulit diakses. Dampak langsung pada turunnya aktivitas ekonomi UMKM dan kafe-kafe di tepian sungai. Himbauan khusus Pemerintah harus bergerak cepat memperbaiki infrastruktur dasar ini sebagai langkah awal menghidupkan kembali kawasan wisata dan ekonomi Sambas yang kian meredup,” pungkasnya. (Nop)








