Wiranto Gagal Paham, Sebut Peladang Penyebab Karhutla; “Jenderal, Tuduhan Itu Salah!!!”

“Karena mereka berladang, di situ peladang dengan cara bakar itu kami akan alihkan peladang tanpa bakar. Kami meminta para korporasi jadi bapak asuh untuk berikan pelatihan dalam membuka lahan, tidak dengan bakar” ujar Wiranto saat menggelar konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (13/09/2019), sebagaimana penulis kutip dari laman viva.co.id.

Pernyataan Wiranto, selaku Menko  Politik, Hukum dan Keamanan tersebut nyata-nyata menunjukkan bahwa Jenderal purnawirawan tersebut tidak memahami  adanya budaya berladang di masyarakat adat, khususnya di Kalimantan barat  yang merupakan kearifan lokal. Bahkan Negara mengakuinya melalui UU No 32 Tahun 2009. Peladang memang membakar lahannya tetapi dijaga dan diyakini tidak merembet ke kawasan lainnya, itulah kearifan lokal.  Dan aktivitas berladang itu dilakukan secara rutin tiap tahunnya, dan telah menjadi tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini. Intinya Jauh sebelum Republik ini ada, masyarakat adat telah melakoni aktivitas berladang ini. Dahulu sebelum hutan-hutan itu berubah jadi hutan-hutan sawit hampir tak pernah ada persoalan polusi asap separah dan selama ini. Pun pada bulan September ini, para petani di kampung-kampung telah usai membuka dan membersihkan lahan, tetapi sedang proses menanami benih , bahkan sayur-mayur telah juga di panen. Artinya tuduhan terhadap peladang oleh Menko Wiranto atas adanya pulusi kabut asap di bulan September ini tak mendasar dan gugur dengan sendirinya, karena realitasnya peladang aktivitasnya sedang menanami benih.

Selain itu, pernyataan Wiranto untuk meminta korporasi menjadi bapak asuh bagi petani agar membuka lahan tidak lagi dengan membakar, menjadi aneh dan lucu sekali, karena biang kerok pembakar hutan itu ya korporasi pemilik konsensi. Sederhananya efisiensi biaya; membuka lahan puluhan hingga ratusan hektar dengan alat-alat berat jelas butuh dana besar dan menguras anggaran korporasi tersebut. Lain halnya dengan cara bakar, tinggal sulut api dengan sendirinya menjalar menghanguskan ratusan hektar hutan, jadilah lahan siap tanam, cost membuka lahan nol. Simple dan untung, bukan?!.https://majalahmataborneonews.com/asap-akibat-ulah-kapitalis-nakal/

Sebagai buktinya, saat ini ada 26 perusahaan di Kalimantan barat yang  telah disegel oleh  Tim Gakkum KLHK, berdasarkan surat press release yang disampaikan Kasi Wilayah III Balai Gakkum LHK Wil. Kalimantan, Sabtu (14/09/2019) selang satu hari pernyataan kontroversial Wiranto,  karena areal konsesi perusahaan terbakar. Diantaranya; 3 perusahaan Malaysia, 1 Perusahaan Singapura, dan 1 kebun milik perorangan. Areal kebun yang terbakar dipastikan tak sebanding dengan lahan  yang dibakar peladang untuk bercocok tanam itu yang besarannya rata-rata kurang dari 2 Ha. Kebakaran. Sebagai contoh dari release Tim Gakkum KLHK, PT. AER di kabupaten Ketapang, tepatnya Kec. Benua Kayong, menyumbang kurang lebih 998,517 Ha lahan yang terbakar. PT. SKM masih di Ketapang lahan yang terbakar 1.468,448 Ha,  kebakaran lahan juga tersebar di perusahaan perkebunan sawit di berbagai kabupaten seperti Sanggau PT. KGP, kabupaten Sekadau PT. KBP.  Di Melawi, Kubu Raya, Landak PT. NI lokasi kecamatan Meranti, lahan terbakar 14 Ha. PT. IGP lokasi kec. Sengah Temila, lahan terbakar sekitar 40 Ha.

Nah, jelas bukan  siapa biang kerok Kebakaran lahan dan hutan, Korporasi kebun sawit. Bukan para peladang yang hidup di kampung.  Peladang itu kebanyakan adalah masyarakat miskin, mereka berladang mempertahankan hidup, menegakkan dan melestarikan tradisi leluhur, tak banyak lagi yang tersisa baik orang maupun lahan. Mereka kalah oleh bujuk rayu para Kapitalis!!. Hutan-hutan warisan nyaris tak tersisa,  kebun karet alam hilang tergadai. Buah Tengkawang nyaris tak dikenal, Buruang Enggang tinggal cerita. Yang ada, sejauh mata memandang hanyalah hutan-hutan sawit, entah siapa yang punya…., Jadi jenderal, Hormatilah mereka para Peladang itu!!, Sejatinya merekalah pelestari tradisi masyarakat adat itu. (By: L. Sahat Tinambunan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *