Serikat Buruh Garang Di Pusat, Melempem Di Daerah

                           Persoalan buruh adalah fenomena klasik, berulang dari waktu ke waktu  dengan isyu yang hampir  sama ; upah yang minim, PHK, penggunaan tenaga kerja out sourching, tidak adanya jaminan kesehatan & jaminan ketenagakerjaan,  Dari tahun ke tahun persoalan tersebut terus muncul dan tak pernah terselesaikan. Kondisi buruh di Indonesia tak juga kunjung membaik, terutama di sektor-sektor padat karya yang banyak memberlakukan tenaga kerja tidak tetap. Hal ini mau tidak mau menunjukkan ketidakmampuan negara dalam menyelesaikan masalah perburuhan dan mencerminkan tidak berkembangnya gerakan buruh di Indonesia. Berbicara mengenai aturan dan per Undang-undangan tentang Ketenagakerjaan, Indonesia telah ada, karena memang telah mewarisi dan mengadopsi Undang-undangnya Belanda. Berbicara mengenai Serikat Pekerja atau Serikat Buruh, sudah barang tentu Negara Eks jajahan Belanda ini melek dan paham betul. Zamannya VOC, dahulu saja Serikat telah ada baik yang dibentuk pekerja Belanda maupun Pribumi. Bahkan dalam perkembangan saat ini organisasi yang mengurusi buruh di Indonesia cukup banyak, seperti Federasi Buruh, Serikat Buruh, Serikat Pekerja, dan lainnya. Bagimanapun jumlah buruh di Indonesia sangatlah besar, menyebar dari desa, kota hingga ke Luar Negeri sebagai buruh migrant. Besarnya jumlah buruh ini, tentunya menjadi lahan subur bagi penyumbang suara-suara untuk Partai politik, tak mengherankan bilamana berbicara buruh berarti akan berbicara menyangkut banyak elemen yang bermain di dalamnya.

           Tak mengherankan pula, bila organisasi yang mengurusi buruh tumbuh subur dan selalu ditunggangi banyak kepentingan politis. Berkaca pada perayaan May Day  yang lalu (1 Mei 2018), tuntutan buruh tidak hanya menyoal kepentingan perbaikan kesejahteraan buruh saja, tetapi telah menyasar ke ranah politik praktis “Pilpres 2019”.  Memang hal ini tak dapat dihindari, karena bagaimanapun suara buruh sangatlah besar dan tersebar diberbagai organisasi buruh yang ada, meskipun dipastikan berkaitan dengan kepentingan politik, maka  suara buruh juga tidak solid, tetapi menyebar , seperti yang dilansir media tirto.id ; Serikat buruh punya sikap masing-masing jelang Pemilu 2019. Ada yang bakal memutuskan mendukung calon, ada yang sebaliknya.  Seperti yang ditunjukkan oleh Dua serikat Buruh besar yang ada di Indonesia, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Konfederasi Kongres Alainsi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) yang punya sikap dan pandangan yang berlainan soal dukungan politik. KSPI dengan gamblang akan memberikan dukungan pada calon presiden 2019 dengan sejumlah bargaining politik, sedangkan KASBI dengan tegas menyatakan tidak berpolitik praktis.

            Pemilu Serentak dan Pilpres telah usai, buruh sebagai lumbung dan penyumbang suara tentunya telah memiliki agenda-agenda  yang dititipkan  kepada legislator pilihannya diberbagai level tingkatan dan lintas partai, karena 2019 tak ada satupun partai yang identitik memakai nama buruh. Persoalannya terletak dimasing-masing organisasi buruh yang ada untuk menempatkan nilai tawarnya untuk kesejahteraan buruh jangka panjang. Meskipun gerakkan buruh yang ada di tanah air tak merata, hanya terpusat di Jakarta dan di kota-kota besar saja, di daerah-daerah seperti di Kalimantan barat, gerakan buruh tidaklah sesangar dan segarang di Jakarta. Kekuatan internal buruh di tingkat daerah masih perlu disolidkan, karena bagaimanapun ke depannya persoalan-persoalan buruh di daerah akan cukup intens seiring semakin menjamurnya perusahaan-perusahaan sawit, serta masih lemahnya implementasi dan pengawasan hukum ketenagakerjaan di daerah-daerah. Setidaknya politik buruh melalui slogan  “Proletarier aller Länder vereinigt EuchKaum proletar dari semua negeri, bersatulah!”,  manifesto buah pemikiran Karl Mark tersebut, masih relevan untuk menggerakkan perjuangan para buruh diberbagai level tingkatan pusat hingga daerah bila  terorganisir dengan baik dan benar. Tentunya perjuangan buruh adalah untuk kepentingan kesejahteraan buruh.  “SELAMAT HARI BURUH” (Sahat –Pimred Majalahmataborneonews.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *