Sawit Anjlok, Bodoh Siapa Diangkut?!

Bumi selalu bisa mencukupi kebutuhan semua orang dimuka bumi, tetapi tak akan pernah bisa mencukupi kebutuhan segelintir orang yang rakus” (Mahatma Gandhi)

 Sawit merupakan fenomena tersendiri dalam perekonomian kita saat ini, khususnya di Kalimantan Barat, pasca habisnya masa keemasan Kayu , karena sudah habis terbabat, baik oleh yang berkedok HPH maupun Illegal loging. Maka para pengusaha pun ramai-ramai banting setir, membuka lahan-lahan untuk dijadikan perkebunan Sawit. Tak perduli apakah lahan tersebut lahan hutan produksi, hutan lindung, lahan gambut, atau lahan yang masih produktif karena adanya karet alam atau persawahan milik warga,  asalkan bisa dibebaskan dan dibeli untuk ditanami sawit.

Tidak hanya Perusahaan yang doyan berkebun sawit, para pejabat, politisi pun ramai-ramai ikut-ikut latah gencar berkebun Sawit. Tidak heran toh, kalau saat ini sejauh mata memandang yang ada hanyalah hutan-hutan sawit. Tentunya Hutan-hutan sawit tersebut, pemiliknya adalah para Tuan Tanah, baik yang berbentuk Perusahaan, ataupun atas nama pribadi, pastinya pemiliknya orang-orang berduit. Masyarakat sekitarnya yang dulunya pemilik hutan tersebut, kini kebanyakan hanya jadi penonton, atau buruh/pekerja kebun, paling hanya segelintir yang mampu ikut bertanam sawit, itupun dalam skala lahan yang tidak terlalu besar. Jikapun ada warga masyarakat yang memiliki kebun sawit, kebanyakan adalah hasil pembagian dari perusahaan, berbentuk Plasma. Itupun tak semua yang mampu mempertahankannya, kebanyakan malah kebun plasma dijual ke pihak lain yang biasanya adalah para pendatang dari luar Kalimantan, yang memang telah biasa berkebun sawit. Sementara pribumi khususnya masyarakat adat, memang kesulitan untuk membiasakan diri berkebun sawit, terlalu ribet, karena harus merawat dan memupuk. Tidak seperti berladang, atau ketika masih memiliki hutan yang didalamnya masih terdapat berbagai tumbuhan yang bisa diambil dan dimakan, gratis, dan tak perlu dirawat atau dipupuk seperti halnya hutan sawit, yang harus dipupuk, dipanen, dijual, baru bisa beli sesuatu. (Kini Hutan yang seperti Supermarket gratis telah tiada tergantikan hutan Homogen sawit).

Booming sawit, memang telah mengubah wajah pulau Kalimantan, hutan heterogen berubah menjadi hutan bertanaman sejenis yaitu sawit, tatanan social dan budaya masyarakat lokal pun ikut berubah bergantikan nilai-nilai social baru. Dari masyarakat yang bergantung dan bersandar serta menjunjung pada nilai-nilai alam, menjadi masyarakat yang berorientasi ekonomi dan hedonis.

Sawit memang menguntungkan, khususnya bagi  para tuan-tuan tanah pemilik perkebunan sawit skala besar, masyarakat sekitar kebun pastinya hanya kebagian remah-remah kue keuntungan dari para pemilik kebun sawit, takkala harga yang lumayan dari komoditi ini. Namun, sejarah selalu berulang, perekonomian dunia dipastikan selalu berfluktuasi, demikian pula halnya dengan harga komoditas sawit yang harganya ditentukan secara internasional, yang saat ini menurun.  Petani kebun sawit kelas pemilik kebun plasma, jelas menjerit dengan turunnya harga, karena dipastikan akan berpengaruh pada daya beli mereka, demikian juga halnya dengan buruh dan pekerja sawit.

Teori permintaan dan penawaran, gamblang menyatakan “ Jika penawaran banyak, harga akan turun” . Jikalau harga sawit sekarang terus turun, kenapa mesti galau, yang menanam sawit bukan hanya di Kalbar saja, dibelahan benua lain seperti  Afrika saat ini juga lagi gencar-gencarnya panen. Menggantungkan hanya pada satu komoditas saja seperti Sawit, memang riskan, apalagi harga dan konsumen terbesarnyanya justru dari luar negeri. Sekedar catatan dan masukkan bagi rekan-rekan penggiat dunia tani, tanaman bukan hanya sawit, masih banyak loh tanaman lain yang bernilai tinggi untuk konsumsi lokal maupun ekspor. Yang nilai jualnya akan semakin tinggi kalau rupiah melemah, bukan malah menurun seperti sawit dikala kurs melemah seperti saat ini . (By : L. Sahat Tinambunan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *