Parlemen Jalanan Beraksi, Kala Senayan & Istana Tak Lagi Mendengar

Parlemen jalanan  adalah aksi  terakhir yang digunakan aktivis untuk memperjuangkan hak dan  tuntutan, manakala negoisiasi, aspirasi serta musyawarah menemukan jalan buntu. Cerita parlemen jalanan adalah pengulangan sejarah dari rezim ke rezim  di Negara ini, ketika penguasa di istana dan parlemen di senayan mulai berkomplot  (oligarki) untuk memperdaya rakyat atas nama undang-undang ataupun kebijakan. Dan mahasiswa adalah garda terdepan dari  barisan parlemen jalanan itu. Lantangnya teriakan ribuan mahasiswa yang secara bersama-sama menyuarakan tuntutan di seantero Jawa, Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan tentunya adalah suara yang muncul dari kemurnian para anak bangsa yang memiliki integritas untuk memperjuangkan dan mempertahankan negeri ini. Itulah yang dilakukan para anak muda terdidik itu, beberapa waktu lalu hingga saat ini, Selasa (24/9/2019) para mahasiswa tak hanya membanjiri jalanan Ibukota Jakarta dan mendobrak Senayan, tetapi juga bergerak diseantero daerah, Jogyakarta, Makasar, Medan serta kota-kota lainnya bergolak menyuarakan tuntutan.

Sabtu (21/09/2019) di whatsap penulis, ada pesan  ajakan untuk meliput Aliansi Mahasiswa Indonesia Tuntut Tuntaskan Reformasi yang akan diadakan pada Senin (23/9/19), titik kumpul di Tugu Reformasi Universitas Trisakti, dengan agenda : 1) Merestorasi upaya pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme. 2). Merestorasi Demokrasi, Hak Rakyat untuk berpendapat, Penghormatan perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia, dan keterlibatan rakyat dalam proses pengambilan kebijakan. 3). Merestorasi perlindungan sumber daya alam, pelaksanaan reforma agrarian dan tenaga kerja dari ekonomi yang eksoloitatif. 4) Merestorasi kesatuan bangsa dan Negara dengan penghapusan diskriminasi antar etnis, pemerataan ekonomi, dan perlindungan bagi perempuan. Dan aksi protes itu telah dilakukan dan sedang berjalan oleh para parlemen jalanan di depan Senayan hingga saat ini, diikuti aksi mahasiswa di daerah lainnya dengan tuntutan yang sama menolak Revisi UU KPK  dan menolak RKUHP.

Memang patutlah disayangkan, disaat Negara ini baru saja usai berpesta demokrasi dengan terpilihnya Presiden dan para wakil parlemen yang akan dilantik dalam hitungan minggu ke depan, demonstran besar-besaran oleh parlemen jalanan terjadi,  tak main-main, hampir sebagian kampus bereaksi dan bergerak. Meskipun Presiden telah juga meminta parlemen Senayan untuk menunda RKUHP, demontrasi toh tetap berjalan.  Tuntutan protes tak hanya sebatas pada RKUHP, tetapi jauh lebih krusial yaitu Revisi Hasil UU KPK yang tak bergeming dan telah diaminkan presiden. Inilah biang kerok mobilisasi parlemen jalanan ala mahasiswa terjadi.  Revisi UU KPK yang diinisiasi Parlemen Senayan diiujung masa jabatannya menuai banyak protes tidak hanya dari kalangan penggiat anti korupsi, tetapi juga oleh para akademisi dan Guru Besar hampir di semua Universitas yang ada; “Adanya indikasi pelemahan KPK”. Pastinya mereka adalah para pakar, kaum intelektual, penggiat anti korupsi yang paham betul seluk beluk budaya korupsi yang buruk yang masih coba dipertahankan oleh sekelompok elite di Senayan dan di lingkar Jokowi.

Setiap aksi demonstrasi pastinya akan disusupi oleh kepentingan elite lainnya, tetapi yang pasti agenda perjuangan parlemen jalanan oleh para mahasiswa  saat ini adalah murni perjuangan untuk kepentingan bangsa, bukan agenda untuk meminta Jokowi mundur, apalagi untuk menghalangi pelantikan yang dalam hitungan minggu lagi.  Bola panas ada ditangan Jokowi, masih bertahan dengan  tetap melanjutkan upaya pelemahan KPK atas revisi yang dituduhkan oleh para aktivis itu, atau mendengar suara mahasiswa untuk tetap terdepan memberantas budaya Korupsi dengan tetap mempertahankan marwah KPK . Dan parlemen jalananpun usai dengan sendirinya. Parlemen Jalanan beraksi manakala rasa keadilan dan hak masyarakat diberangus dan dikorup oleh sekelompok ellite jahat.  Nun dibelahan bumi lain, disaat yang sama para aktivis internasional dari 139 negara juga membentuk parlamen jalanan menggaungkan tuntutan kepedulian Negara-negara maju atas perubahan iklim di dunia saat ini. Selamat berjuang di parlemen jalanan demi nusa bangsa yang lebih baik, demi bumi yang nyaman untuk ditinggali .(L. Sahat Tinambunan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *