Negara Merdeka Yang Terjajah “Refleksi 74 Tahun Kemerdekaan”

Negara merdeka yang terjajah, mungkin seperti itulah frase yang lumayan tepat untuk menggambarkan Republik Indonesia saat ini. Betapa tidak, untuk urusan perut saja kita harus tergantung dengan Negara luar, dari Beras  hingga kacang kedelai bahan baku pembuat Tempe harus diimpor. Padahal anak negeri  ini mayoritasnya pemakan nasi dan penikmat Tempe, malah ada anekdot “Belum makan, kalau belum kunyah itu nasi”  lucu bukan?!. Untuk urusan perut saja impor, pastinya yang berkaitan teknologi juga rata-rata di impor, dus BBM juga diimpor (Harap maklum dong kalau neraca perdagangan selalu defisit). Parahnya mata uang juga di impor, tuh yang simpan  Dolar, mana nasionalisnya???

Sebagai Negara yang telah 74 tahun Merdeka dengan  sumber daya yang berlimpah, baik SDA dan SDM, tentunya sukar sekali untuk dipercaya. Namun itulah realitanya, ketergantungan bangsa ini terhadap produk luar tak terbantahkan. Tak mengherankan jika produk-produk luar membanjiri pasaran; dari buah, sayuran, daging, makanan instan/siap saji, serta apa saja ada di pasaran kita, dengan harga lebih miring dari produk lokal (Pakaian, perlengkapan rumah tangga, kosmetik,dll).  Bahkan tenaga kerja juga di impor, terlihat makin besarnya tenaga kerja asing memasuki beragam industry termasuk di perkebunan-perkebunan sawit dengan jabatan strategis tentunya ( Per 31 Des 2018 Data Kemenaker; TKA  berjumlah 95.335 orang, sebagai professional, manajer dan direksi).

Sementara kita, masih berkutat mengekspor bahan-bahan mentah, serta Tenaga Kerja yang tak terampil untuk dijadikan buruh migrant diberbagai Negara. Disaat Negara lain telah melarang ekspansi perkebunan sawit, kita justru dengan bangganya menawarkan lahan-lahan produktif kepada investor untuk dijadikan hutan sawit, dan celakanya banyak dari korporasi pemilik konsensi justru membuka lahan dengan cara membakar berakibat pada polusi asap, serta terkambinghitamkannya para masyarakat adat (Peladang) yang jauh sebelum Republik ini merdeka, memang telah membuka lahan untuk berhuma/berladang menanam padi dan sayur mayur dengan cara membakar dilahan tersebut dan tak pernah merembet ke lahan lainnya, selanjutnya usai dipanen padi ditanami karet alam yang diikuti dengan tumbuhnya tanaman lainnya (Hutan muda – kearifan lokal masyarakat Adat Dayak).

Itulah Kondisi Negara kita Indonesia tercinta saat ini. Negara kaya dengan sumber daya melimpah, namun roda pemerintahannya dibiayai dengan hutang. Hutang yang berujung dan akan terus diwarisi generasi demi generasi selama NKRI masih tegak berdiri. Sementara oknum pejabat masih tak bermalu mengkorupsi dana pembangunan dari hasil menghutang tersebut (Lihat http//www.kpk.go.id).

“Jangan tanyakan apa yang bisa Negara berikan kepadamu, tetapi tanyakanlah apa yang bisa kamu berikan untuk Negara ini” ungkap John F. Kennedy, Presiden USA pada rakyatnya masa itu. Di Republik Indonesia tercinta ini, rakyat tentunya juga telah rela berkorban demi Negara ini; Tanah, Hutan, Lautan warisan leluhur dimasa-masa lalu telah diserahkan atas untuk membangun negeri ini, lihatlah semuanya telah tergantikan dengan perkebunan( hutan sawit), pertambangan, kilang-kilang minyak. Tentunya demi kepentingan Negara (Pertumbuhan ekonomi, peningkatan pajak) yang tentunya pada akhirnya untuk kemakmuran rakyat juga.

Namun apa mau dikata, setelah 74 tahun NKRI merdeka, setelah sekian dasawarsa rakyat mempercayakannya kepada pemerintah untuk dikelola, rakyat tak kunjung makmur dan sejahtera; infrastruktur dasar (Jalan-Jembatan, Listrik,) Fasilitas Pendidikan, Fasilitas Kesehatan masih belum merata, di desa-desa pedalaman bahkan tak tersentuh penerangan listrik sama sekali. Duh dikemanakan hasil hutan itu dulu ?!  berton-ton tambang dan minyak bumi?. Yang terjadi justru hutang yang membebani rakyat semakin menumpuk dari waktu ke waktu. “Negeri kaya yang salah urus, tepatnya diurus para Bedebah yang sibuk memperkaya diri”.

Dirgahayu RI ke-74 ini, tentunya menjadi momentum yang berarti bagi Negara ini untuk merefleksi kembali tujuan berbangsa dan bernegara yang digagas para Founding Father yang didukung rakyat kala itu. Terpilihnya Jokowi sebagai presiden kembali, tentunya menjadi energy positif untuk meneruskan program kerja nyatanya untuk rakyat; Infrastruktur dasar yang telah mulai dibangun tentunya bisa diteruskan. Demikian halnya dengan revolusi mental ( mental birokrat & korup) penyakit kronis bangsa ini bisa berangsur hilang. Membangun dari pinggir dengan kucuran dana desa yang semakin mencukupi untuk membenahi wajah perdesaan dan memajukan perekonomian desa semakin nyata. Untuk itu memamg peran nyata masyarakat khususnya di perdesaan dalam mengawal pengelolaan dana desa mutlak diperlukan. Sikap kritis dan kepedulian warga desa dalam memonitoring dana desa dari awal perencanaan hingga akhir pelaksanaan penggunaan dana desa akan mempersempit ruang pejabat desa untuk mengkorupsi, sehingga tujuan dari ADD untuk membangun NKRI dari perdesaan bisa terwujud. “Sudah waktunya rakyat untuk bangkit dan berjuang kembali melawan musuh-musuh dalam selimut (pejabat korup, aparat korup, penyebar ideology kebencian)  yang menggrogoti bangsa ini. Dengan sikap kritis dan berani bersuara. Karena sikap diam dan apatis menjadikan kita kembali terjajah ”   DIRGAHAYU RI  Ke 74 – Merdeka!!!

(L. Sahat Tinambunan : Majalahmataborneo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *