Mendidik Generasi Cerdas & Berintegritas

Kita hidup di negeri para bedebah, ujar seorang teman aktivis. Moralitas hanya sebatas ucapan bukan tindakan. Setiap waktu media mengabarkan Elite yang tertangkap karena karupsi, karena narkoba, dan itu terus berulang, tanpa menimbulkan efek jera . Elite yang seharusnya menjadi panutan dan teladan justru menjadi contoh yang buruk.  Pendidikan yang menjadi benteng terakhir penjaga moralitas juga gamang;  gelar kesarjanaan yang diobral,  Pengajar yang asal, soal ujian yang bocor –Belajar hanya mengejar ijazah dan gelar bukan ilmu atau Skill. Pendidikan yang seharusnya melahirkan generasi cerdas dan berintegritas dengan mengedapankan nilai kejujuran dan moralitas menjadi bias dan kehilangan hakikat. Padahal,  belajar adalah tradisi yang diwariskan para filsuf dalam berpikir kritis sebagai upaya untuk mencari kebenaran, melalui dialog untuk menguji pendapat maupun keyakinan dengan mengedepankan nilai-nilai kejujuran.

Revolusi mental yang digaungkan oleh pemerintahan Jokowi, memang menjadi keniscayaan untuk mengembalikan marwah hakikat dunia pendidikan kita, yaitu mendidik generasi yang tidak hanya cerdas dan berskll, tetapi juga berintegritas atau berkepribadian baik. Memang butuh waktu yang panjang untuk membiasakan kembali pada paradigama yang sebenarnya telah lama ada, yaitu “Belajar bukan hanya untuk ilmu semata, tetapi juga untuk kehidupan /Non scholae sed vitae discismus”.  Izajah dan Gelar kesarjanaan itu penting dan sangat berguna dalam sosialita masyarakat kita dan dunia, tetapi yang lebih penting lagi adalah proses dalam memperolehnya. Karena ijazah dan Gelar adalah hasil dari belajar untuk mencari tahu kebenaran suatu ilmu pengetahuan, yang pada akhirnya dari proses belajar panjang tersebut membuat Individu yang bersangkutan memiliki pengetahuan dan keahlian dalam ilmu yang dipelajarinya. Bukan cuman pasang titel doang, ilmu dan skill nol. Sebagai catatan , dalam hasil tes Programme for Internasional Student Assessment yang dipublikasikan Organisasi untuk kerja sama ekonomi dan pembangunan (OECD) tahun 2012, Anak Indonesia dikatakan lemah dalam bernalar meski jago menghapal. Menghafal tentunya kemampuan berharga, tetapi berpikir kritis diperlukan untuk perubahan (Tinjauan Kompas, 2016 : 111).

Mantra revolusi mental yang digaungkan pemerintah Jokowi memang tidak serta merta mengubah wajah pendidikan kita, tetapi paling tidak, telah ada upaya untuk memulai kembali tradisi keilmuan, dimana pendidikan sebagai tempat untuk belajar kritis yang pada akhirnya akan melahirkan generasi yang cerdas dan berintegritas. Dunia kini pun telah menglobal dan tanpa sekat. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pun telah berjalan, dimana pekerja professional yang dipakai adalah yang terampil dan kompeten dibidangnya. Pastinya generasi Indonesia mendatang yang cerdas dan berintegritas akan mampu berkompetesi ditingkat global. “ Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2019” (Sahat Pimpred Majalahmataborneonews.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *