Melawan Korupsi Melalui Keteladanan Kesederhanaan Pejabat Publik (Refleksi Hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember)

Sederhananya akar dari  perilaku korupsi itu berawal dari gaya hidup yang cenderung ingin bermewah-mewah atau hedonis.  Laju teknologi informasi yang tanpa sekat batas dan gampang diakses oleh semua kalangan dan dimanapun hanya dalam genggaman tangan semakin menumbuh suburkan gaya hidup konsumtif  atau hedonis itu. Baca juga/klik : Korupsi, Kuasa & Budaya

Bayangkan setiap waktu dalam hitungan detik indera kita, khususnya mata dan telinga disuguhkan berbagai macam produk  tiada henti, tak hanya di TV, Radio, tetapi juga yang terintens  di media sosial facebook, Instrgram dan lain-lain. Produk ditawarkan dengan segala macam ragam dan dengan segala kemudahannya. Tak mengherankan masyarakat kekinian membeli bukan lagi karena memang butuh atau kebutuhan, tetapi lebih pada keinginan untuk sekedar memenuhi gaya hidup. Persoalan dana tak masalah,  bisa berhutang alias kredit atau mencicil. Nah lho?!!

Parahnya medsos dan media tak hanya menyuguhkan produk-produk konsumtif itu, tetapi juga  terkadang menginformasikan perilaku buruk para pejabat  yang nota benenya adalah pelayan dan pengayom masyarakat  yang bergaya hidup mewah dengan barang-barang yang bermerk  serta plesiran ke Luar negeri. Padahal Pejabat publik itu (Presiden, DPR, Direksi BUMN, Aparatur Negara, Bupati, Kades, dll) sama seperti selebriti atau artis selain kerap diberitakan, juga memiliki pengikut dan penggemar yang akan mencontohi perilaku hedonis itu.  Parahnya tak sedikit dari pejabat public yang membiayai perilaku hedonis itu dari hasil menilap, pungli dan mengkorupsi. Sungguh terlalu dan tak bermalu…

Mahatma Gandi, Perdana Menteri India  (1869-1948) adalah tauladan dari kesederhanaan itu, Ia pernah berucap “Bumi ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak pernah cukup untuk 7 orang serakah”.  Di Republik ini,Mohammad Hatta, Pendiri Negara yang juga wakil presiden RI pertama adalah contoh dari kesederhanaan itu (Kisah sepatu bally nya Moh. Hatta). Sebetulnya  ada banyak  para pejabat publik di masa lalu yang memberikan keteladanan dengan hidup sederhana pada zamannya.  Seperti Jenderal Hoegeng di Kepolisian, serta lainnya.  Hingga korupsi nyaris  hampir tak terdengar. Baca juga/klik :Jokowi, DPR & KPK, Ada Apa?! ( 1970, Presiden Soeharto Berkomitmen Memberantas Korupsi: “Seharusnya tidak ada keraguan, saya sendiri yang akan memimpin”) nah lho?!.

Masyarakat di republic ini sangat butuh figure-figur tauladan kesederhanaan itu untuk secara perlahan mengurangi budaya korupsi  yang berpangkal dari gaya hidup hedonis itu. Sst….jika ada para pejabat di daerah termasuk Kepala desa yang bergaya hidup mewah wajib diwaspadai lho, jangan-jangan hasil korupsi. Jika ada bukti jangan ragu laporkan segera  ke yang berwenang, bisa dapat hadiah uang  hingga Rp.200.000.000,- (Dua ratus juta)  plus piagam penghargaan  (PP 43/2018). Lumayan untuk beli Mobil mewah, eh maaf untuk tabungan. “ Selamat Hari Anti Korupsi Dunia, 9 Desember 2019” (L. Sahat Tinambunan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *