Hoaks Penghancur Bangsa; Filsuf Socrates Ribuan Tahun Lalu Telah Punya Solusinya

Teroris, kelompok radikal ataupun saparatis rasanya sudah terbiasa adanya di republk ini. Sedari awal kemerdekaan  Ia  bercokol dan terus menggrogoti hingga saat ini, namun Tentara  dan Polis mampu mengatasinya. Teroris dan saparatis adalah musuh yang nyata dan terorganisir melawan pemerintahan yang berdaulat. Sekuat dan sehebat apapun kelompok radikal itu akan selalu mampu dihalau, sekali lagi karena Ia nyata. Lain halnya dengan Hoaks atau berita bohong, Ia tidak nyata hanya  berbentuk kalimat yang memprovokasi,  Biasanya berupa kalimat ujaran kebencian yang bernuansa SARA (Suku, Ras & Agama), namun dampak buruk yang ditimbulkannya sangat luar biasa, seperti virus atau jamur di musim hujan. Seketika menyebar dalam hitungan menit dan diakses seantero nusantara via media sosial; facebook, whatshap, Instragram, You Tube, Telegram, serta aplkasi medsos lainnya. Menjadi buruk manakala pengguna medsos menelan mentah informasi hoaks tersebut dan terpancing, ujungnya berakibat fatal dan riskan. Tidak hanya terhadap obyek yang diprovokasi SARA tetapi juga pada pemerintah yang berkuasa dan perpecahan anak bangsa yang berakhir pada kehancuran Negara ini. Celakanya “HOAKS” itu menjadi senjata baru dari kelompok radikal dan saparatis di era digital ini. Nyata sekali kalau Hoaks lebih berbahaya dari teroris internasional sekalipun.

Kerusuhan Wamena, Papua. Rabu (25/9/2019) 32 Orang Meninggal, kemungkinan terus bertambah, kerusakan bangunan 80%  (Kompas.com). Tiada lain berawal dari  hoaks alias berita bohong yang dimunculkan, lalu seketika menyebar ke masyarakat dan dianggap kebenaran yang berujung pada provakasi dan seketika berujung rusuh yang tidak hanya mengorbankan jiwa dan material, tetapi juga traumatis yang mendalam. Serta menghancurkan nilai-nilai kebhinekaan dan Pancasilais yang susah payah dibangun oleh para Pendiri Republik ini. Miris bukan?!, celakanya kerusuhan akibat hoaks ini cerita yang berulang hanya dalam hitungan hari, setelah sebelumnya hoaks pembuangan Bendera Merah Putih di asrama mahasiswa Papua di Surabaya, berujung demo dan berakhir rusuh besar-besaran di provinsi Papua.

Sebagai anak bangsa yang mencintai Republik ini, tentunya kita sedih dan berduka serta kecewa. Sedih dan berduka atas korban jiwa serta benih perpecahan yang muncul. Kecewa atas kebodohan dan kedunguan masyarakat kita yang begitu gampang terpancing dan terprovokasi hanya karena berita bohong/ hoaks yang secara sengaja disebar. Entah bodoh siapa yang diangkut.  Apa mau dikata, Nasi telah menjadi bubur yang dapat dilakukan saat ini hanyalah rekonsiliasi dan rekonstruksi pasca kejadian. Butuh waktu memang, tetapi yang lebih terpenting adalah sosialisasi akan kesadaran masyarakat dilevel paling bawah untuk tidak gampang mempercayai indormasi berbau hasutan apapun di media sosial tanpa mengkonfirmasi dan mengklarifikasi kepada sumber yang terpercaya terlebih dahulu. Baik melalui media massa konvensional elektronik maupun cetak, serta kepada pemuka dan tokoh masyarakat, tentunya juga kepada pejabar dan aparat diberbagai level,  seperti  Babinsa, Babinkamtibmas dan kades untuk untuk level desa dan seterusnya.

Socrates, Filsuf Yunani  yang hidup lebih dari dua ribuan tahun yang lalu (469-399 SM), bahkan telah memperingati akan bahaya kabar bohong  alias hoaks ini, untuk Ia menawarkan sebuah solusi pada masanya yang masih relevan digunakan hingga saat ini, yaitu “Ujian Saringan  Tiga Lapis”, antara lain :

  1. Saringan lapis Pertama adalah “Kebenaran” sudah pastikah berita yang kita dengar dan akan kita sampaikan itu memang benar
  2. Saringan lapis Kedua adalah “ Kebaikan”  apakah berita  atau informasi yang akan kita sampaikan atau sebarkan  adalah sesuatu yang baik
  3. Saringan lapis Ketiga adalah “ Kegunaan” apakah informasi yang akan  disampaikan atau disebarkan itu memiliki kegunaan

Kesimpulannya : Jika apa yang akan disampaikan/sebarkan  belum tentu benar, tidak baik dan tidak berguna, untuk apa diteruskan.

Nah, hoaks itu bukan barang baru, Ia telah ada ribuan tahun lalu. Sebagai masyarakat yang hidup di era modern dengan teknologi digital yang semua orang dengan gampang mengakses semua informasi dan mengkonfirmasinya melalui Gadget atau HP yang dimiliki seharusnya lebih pintar dan tidak terprovokasi. Ingat  saja ujian saringan tiga lapis sang Filsuf Socrates penangkal hoaks di medsos. (By: L. Sahat Tinambunan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *