Guru Besar Bersahaja Itu Telah Pergi (In Memoriam Prof. Dr. A.B. Tandililing,M.A)

Guru besar  Ilmu Sosial & Politik Universitas Tanjungpura yang bersahaja itu akhirnya pergi menghadap Sang Pencipta, Jumat (14/02/2020) di Kupang, NTB  karena serangan jantung dalam usia 67 Tahun.  (POS-KUPANG.COM). Dimata Penulis, Almarhum Profesor  Dr. Andreas Barung Tandililing, M.A  atau biasa disapa oleh kami dengan  “Prof. Tandi”  sungguh merupakan pribadi yang bersahaja, sederhana  dan murah senyum serta selalu bersedia membantu tanpa birokrasi yang rumit, meskipun di kampus penuh kesibukan sebagai Guru besar maupun jabatan birokrat lainnya.

Seingat penulis, perkenalan dengan almarhum Guru Besar, Prof. A.B. Tandililing, bermula oleh ajakan seorang teman aktivis sekitar tahun 1997 atau 1998 untuk menghadiri Orasi Ilmiah  sang Profesor yang mengulas tentang Konflik antar Etnis di Kalbar (Maaf jika tahun kurang tepat).  Selanjutnya pertemuan berikutnya di tahun 1999, ketika penulis  bersama 10 orang teman-teman yang berkarya sebagai Sarjana Penggerak Pembangunan Di Pedesaan (SP-3) membentuk sebuah organisasi berbadan hukum Yayasan, yaitu Yayasan Swadaya Bina Kalimantan (YSBK), semacam Ornop atau LSM yang marak kala itu pasca reformasi karena dikucurkannya dana jaring sosial  baik bersumber dari APBN/D maupun founding luar. Dan mendiskusikan dan meminta beliau untuk membantu yayasan tersebut sebagai pembina dan dewan pakar. Sejak itu intensitas bertemu dengan beliau mulai meningkat, berdiskusi minta pendapat untuk suatu program dan meminta persetujuan maupun meminta untuk menjadi Narasumber untuk event-event seminar di daerah-daerah yang pada masa itu sedang trendnya pasca mulai diberlakukannya UU Otonomi Daerah, sebagai salah satu Pakar dan Guru besar Ilmu politik, tentunya jadwal almarhum sangatlah padat. Namun selalu bisa membagi waktu dan tersedia waktu disaat dibutuhkan.

Beberapa peristiwa berikut  merupakan kenangan yang membekas betapa bersahajanya sang Guru Besar itu; Suatu ketika lembaga yang Penulis pimpin kala itu akan mengadakan kegiatan seminar di daerah dimana almarhum sebagai salah satu Narasumbernya, dikarenakan acaranya pada pagi ke esokkannya, maka sore hari sebelumnya harus berangkat dan menginap. Kita komfirmasi akan menjemput beliau di rumah satu jam sebelum berangkat, saat akan dijemput beliau telah siap menunggu di teras rumah dengan bawaannya. Malam harinya sesampai di penginapan ternyata kapasitas kamar kurang, beliau dengan santai mengatakan ya sudah kita tidur satu kamar. Keesokan harinya setelah selesai sesi mengisi acara, karena ada jadwal lain yang harus diisi, sementara sopir panitia sibuk, maka beliau dengan santainya mengatakan ya sudah biar tidak merepotkan saya naik bis saja. Peristiwa lainnya, adalah takkala penulis hendak melanjutkan pendidikan ke Pasca sarjana melalui beasiwa Patnership Foundation, dimana salah satu syaratnya adalah rekomendasi dari Guru Besar yang harus segera diisi secepat mungkin karena tengat waktu pada hari itu juga, maka ketika ditemui, dengan segera Beliau memberikan rekomendasi tersebut tanpa banyak tanya.

Begitu banyak peristiwa lainnya yang mengambarkan kebersahajaan Sang Guru Besar, Prof. Dr. A.B. Tandililing,MA yang masih lekat dalam kenangan dan tetap menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berkarya. Selamat jalan Prof….., Doa kami senantiasa menyertai. (L. Sahat Tinambunan)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *