Curhatan Seorang Kades Tentang Desanya Yang Tak Tersentuh Pembangunan ?!

Majalahmataborneonews.com, Ngabang –  Kamis (1/2) sekitar jam 16.00 Wib  mendapat kiriman terusan dari wa  wartawan senior Majalah Mata Borneo  (AD)  yang isinya merupakan curhatan seorang Kepala Desa  kepada seorang mantan pejabat dan petinggi partai di daerah Kalbar ini, curhatan itu menurut sang kades sifatnya pribadi, takkala MB mencoba untuk mengklarifikasi atas pernyataannya   ke Kepala desa yang bersangkutan, dan dijawab via wa sekitar pukul 22.50 Wib, yang isinya sebagai berikut ini : “Maaf pak baru dapat sinyal maksut saya jurhat pribadi dengan Beliau. Rupanya ke wa grup maklumlah saya bru pandai dan baru ini saya wa grup ……n……….” Tulis sang Kades yang tak mau menyebut namanya dan nama desanya. ( ……..adalah nama inisial ).

Curhatan tersebut menjadi menarik dan menggelitik penulis untuk memberitakannya karena berisikan keluhan betapa desa yang dipimpinnya tak terjamah oleh pembangunan setelah sekian dekade dan pergantian kepemimpinan. Curhatan itu juga menjadi menarik karena partisipasi tinggi dalam pesta demokrasi yang lalu tak terlalu berarti bagi kemajuan pembangunan terhadap desa tersebut. Meskipun perlu kajian dan telaah yang lebih  jauh atas kebenaran dari curhatan sang Kades tersebut.  Inilah kutipan curhatan dari sang kades, tanpa menambah atau meniadakan kata, terkecuali yang menyangkut nama dan organisasi karena belum dikonfirmasi ke yang bersangkutan.

“Mat sore pak …….., kami salah satu Desa yang tdk pernah tersentuh oleh pemmerintah kab Landak, Desa dri thun 2010 ikut musrembang tigkt kectn tapi tdk pernah di beri satupun pembangunan inprastuktur maupun lainnya, Desa saya sangat miskin pak msh bayak rumah yang peot, byk anak putus sekolah, byk lansia yg hidup sebatang kara, msh byk yg stanting kurang gisi, kami hanya dpt membangun dgn uang DD yg di transper pemerintah pusat ke Desa, kayak nya saya di persulit, hanya yang dpt sy lakukan dgn pemberdayaan dgn byk pelatihan supya bisa mengubah pola pikir dan maein seat masyarakat agar bisa mandiri, saya harus bagai mana lagi pak dgn masyarakat saya, sekarang kami baru selangkah maju dibidang pertanian sudh bisa 3 kali setahun tdk lagi kelaparan, penduk kami mayoritas petani karet, sedangkan harga karet msh bekisar 5 ribu/kg n Bumdes kami baru berjalan, perlujuga bapak ketahui masarakat kami mayoritas pendukung………….setiap pencalonan. Sebenarnya masarakat sudh tdk mau, tapi apa blh buat…………..yg mimpin kami tetap dukung ahirnya biarlah Tuhan yg tahu siapa yg berdosa”  Tulisan dari sang kades melalui wa nya yang diteruskan ke MB.

Jum’at (2/2) Majalahmataborneonews.com mencoba kembali untuk mengklarifikasi ke wa kades yang bersangkutan namun tidak lagi ditanggapi dan dibalas. Sangat dapat dimaklumi ditahun politik seperti saat ini pernyataan tersebut tentunya gampang dipolitisir, sikap diam sang Kades tentunya sangat bijak untuk meredam isyu politik yang berkembang ke arah yang kurang baik. Tetapi setidaknya dari pernyataan curhatan tersebut kita bisa mengetahui bahwa masih banyak wilayah perdesaan yang belum  tersentuh infrastrukturnya, partisipasi politik yang tinggi belum berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. Setidaknya  masyarakat mulai belajar dari realita yang ada, sehingga memilih pemimpin atau wakil rakyat hendaknya yang benar berkualitas dan perduli pada rakyat. Bukan karena “Buah sawit buah kayu ara, ada duit ada suara” (Sahat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *