CERITA DARI SUNGKUNG

Masyarakat pedalaman kadang bingung kalau pejabat berpidato menyinggung kata infrastruktur. Apalagi kalau kata itu kemudian ditambahkan: “penting infrastruktur bagi kemajuan suatu bangsa.” Kebingungan yang sama mengapa jalan, jembatan dan listrik tidak ada di kampungnya. Padahal sudah lama merdeka. Padahal lagi setiap tahunnya, para pejabat berjanji membangun jalan, jembatan dan listrik di kampungnya.

 

Kalau kita buka kamus kata infrastrukur berarti prasarana. Prasarana sendiri berarti segala yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses. Suatu proses yang dimaksudkan di sini yaitu sesuatu untuk menjadi sejahtera, misalnya. Yang dimaksudkan penunjang utama seperti  jalan, jembatan dan listrik. Jalan dianggap penting karena memudahkan barang-barang dari dalam dan luar kampung keluar dan masuk. Harga gula dengan jalan yang baik akan lebih murah. Harga karet akan lebih mahal karena bagus. Informasi dari luar dapat diakses dengan mudah karena transportasi berjalan lancar. Tak mengenal siang atau malam. Pokoknya lancar. Bayangkan kalau jalannya belumpur dan berlubang.

 

Begitu juga jembatan menjadi penting karena menjadi penghubung antar kampung. Mengingat Kalimantan memiliki banyak sungai dan parit maka jembatan menjadi sangat vital dibutuhkan. Bayangkan kalau tidak ada jembatan. Terpaksa orang-orang akan berjalan di dalam sungai. Bisa terseret arus yang deras. Apalagi bagi anak-anak sekolah. Begitu juga listrik. Dengan adanya listrik memudahkan aktivitas malam hari seperti belajar, rapat, menyiapkan keperluan untuk esok harinya.

 

Infrastruktur memang sangat vital bagi pekembangan masyarakat. Maju mundurnya suatu bangsa diukur pula dengan terpenuhinya infrastrukur bagi masyarakat. Lantas, bagaimana kalau infrastruktur ini belum terpenuhi? Dengan mudah kita bayangkan masyarakat tersebut akan terisolir dan tidak berkembang. Kita mungkin pernah mendengar berita tentang anak-anak meminta tak kepada Bapak Presiden Jokowi. Berita ini sempat viral (terkenal) di dunia maya: media social facebook (internet). Menurut Si Pengunggah berita anak SD minta tas tersebut, karena harga tas kalau dibeli di Entikong berkisar sekitar 1 jutaan rupiah. Bukan tasnya yang mahal, tetapi biaya ojek motornya. Untuk sekali jalan biasa ojek berkisar 450 ribu rupiah. Mahal, kan? Belum lagi biaya makan dan menginap di Entikong. Pasti kita paham mengapa akhirnya harga tas bisa semahal begitu. Persoalnya bukan terletak pada tas, tetapi akses jalan dari kampung-kampung di Sungkung menuju Sanggau atau Bengkayang memang sangat sulit ditempuh, apalagi kalau hari hujan. Lagi-lagi memang infrastruktur sangat dibutuhkan masyarakat pedalaman untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya.

 

Tapi bagaimana kondisi infrastruktur di pedalaman Kalimantan? Semua pasti serempak layaknya paduan suara mengatakan belum memadai, bahkan parah di sebagian tempat. Kog bisa begitu? Kita juga tidak paham. Padahal katanya Kalimantan kaya dengan tambang, kebun sawit, dan sumber daya alam lainnya. Lalu dikemanakan uang-uang hasil sumber daya alam tersebut? Entahlah.

 

Saat ini Bapak Presiden dengan getol membangun infrastruktur dimana-mana. Beliau sadar dan paham bahwa pentingnya infarstruktur untuk kemajuan dan pemerataan pembangunan suatu bangsa. Bahkan Musrembangnas menjadikan ‘Infrastruktur’ sebagai temanya tahun 2017. Kita berterima kasih untuk itu. Kita juga tidak dapat menyalahkan Bupati dengan para pejabatnya di daerah. Karena memang dana APBD sangat terbatas untuk membangun infrastruktur secara cepat di mana-mana. Terpaksa harus memikirkan skala prioritas. Namun kita sebagai rakyat juga berharap dana yang ada tidak digerogoti tikus-tikus nakal. Semoga saja begitu, sehingga tidak ada viral lagi Sungkung-Sunggung lain di dunia maya. Kita harus sadar dunia sudah berubah. Dengan mudah suatu berita tersebar hanya dengan satu klik kan saja. Dunia Maya. Untuk itu mari bergegas membangun infrastruktur di daerah pedalaman Kalimantan sebelum viral di dunia maya. Malu, kan?***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *