Asap & Sengsara ; Akibat Ulah Kapitalis Nakal

Rasanya hampir setiap tahunnya Negara ini selalu berurusan dengan persoalan Asap, telah menjadi agenda tahunan toh, bahkan telah tercatat hampir 18 tahun sudah bangsa ini berjibaku dengan persoalan Asap, dari zaman Presiden Soeharto, hingga kini Presiden Jokowi. Mungkin pada era sekarang ini persoalan Asap menjadi semakin parah, karena rentang waktu yang cukup panjang akibat curah hujan yang tak cukup banyak untuk meredakan amukan si Jago merah yang melahap hutan dan membakar lahan gambut. Kemarau tahun ini sepertinya memang lebih panjang daripada tahun-tahun sebelumnya, tentunya memadamkan kebakaran hutan menjadi sukar dan butuh waktu lama, jadi apa mau dikata, dengan sangat terpaksa kita mesti merasakan penderitaan menghirup udara yang tak lagi segar bahkan bisa berujung menjadi Maut, jika terus mengirup asap ini. Tidak hanya kita di Kalimantan & Sumatera, Malaysia dan Singapura juga Sengsara karena asap kiriman ini. (Sssstt, Pengusaha Malaysia & Singapura, banyak loh yang berinvestasi kebun sawit di Sumatera & Kalimantan)
Tak ada Asap kalau tak ada Api, tak mungkin ada kebakaran hutan, kalau tidak ada yang membakarnya. Kebakaran ini jelas ulah manusia, pastinya di sengaja dengan tujuan membuka lahan, pastinya untuk kebutuhan lahan yang sangat besaaaar!!!. Kalau cuman membakar lahan untuk berladang atau berhuma, atau berkebun yang jumlahnya hanya 2 Hektar, pastinya tidak akan menimbulkan kabut asap yang berminggu-minggu seperti ini. Karena dari dulu juga Orang Tua kita di kampung berladang pasti dengan cara membakar lahan tersebut, Toh udara tetap segar tanpa asap yang menyesakkan dada, lahan yang terbakarpun hanya sebatas lahan yang akan ditanami, tanpa merembet ke tempat lain. Jadi sudah pasti bukan petani kecil atau peladang yang membakar hutan. (Sekedar mengingatkan, kalau UU Perlindungan & Pengelolaan Lingkungan, salah satu pasalnya memberikan ijin membakar lahan seluas 2 hektar kepada masyarakat dengan alasan kearifan local).
Lahan dan hutan yang terbakar saat ini memang luar biasa besarnya, untuk pulau Sumatera saja 58 ribu hectar yang terbakar, menurut Menteri Lingkungan Siti Nurbaya, berdasarkan pantauan Satelit tentunya, belum lagi di Kalimantan yang juga cukup besar kebakaran hutannya, khususnya lahan gambut yang terbakar. Menariknya, menurut catatan Walhi, kebakaran yang terjadi tidak random, tetapi sepertinya membentuk pola, dilahan-lahan yang sudah memiliki konsensi. Sudah barang tentu tujuan dari membakar lahan tersebut bermotif kepentingan ekonomi, apalagi kalau bukan berkaitan dengan efisiensi, jelas membakar lahan yang beratus-ratus hektar biayanya dipastikan murah, jika dibandingkan dengan membuka lahan dengan menggunakan dan memobilisasi peralatan-peralatan Berat. Memang saat ini telah ada ditetapkan beberapa Perusahaan yang diduga telah membakar lahan untuk kepentingan membuka lahan sebagai tersangka, baik di Sumatera maupun Kalimantan. Tentunya kita berharap ada tindakan yang tegas terhadap kapitalis nakal selaku otak dibalik pembakar hutan yang menyebabkan bencana asap ini, bukan hanya memblack list atau sekedar mencabut ijin konsensi perusahaannya saja, tetapi yang terpenting adalah menghukum berat Individu dibalik biang terjadinya Bencana Asap ini. Setidaknya Negara berani secara tegas menghukum Investor hitam perusak lingkungan. Karena Pertumbuhan Ekonomi yang didasari dengan merusak lingkungan khususnya hutan, dipastikan akan menyengsarakan dan merugikan rakyat. (By : Sahat, tulisan ini telah dipublikasikan di Majalah Mata Borneo Edisi Oktober 2018).

Catatan :
a. UU Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 69 Ayat 2, Penjelasan : Kearifan lokal yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah melakukan pembakaran lahan dengan luas lahan maksimal 2 hektare per kepala keluarga untuk ditanami tanaman jenis varietas lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah penjalaran api ke wilayah sekelilingnya
b. Kearifan Lokal : Berladang merupakan tradisi masyarakat Dayak yang turun temurun bersinergi dengan Acara tahunan Gawai Naik Dango (kandayant) atau Nosuminu (Ribun/Pandu); Menurut John Bamba, Ketua Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK) mengatakan tradisi ladang berpindah yang dilakukan masyarakat Dayak tidak menyebabkan kebakaran hutan dan lahan secara massif di Kalimantan barat. Adapun cara berladang yang dimaksud dengan cara; Pertama, masyarakat harus membuat “pembatas api” minimal satu meter sehingga tidak merembet ke lahan-lahan lain. “Itu harus benar-benar bersih, jangan sampai ada akar dan lain-lain.”
Kedua, proses pembakaran tersebut harus melibatkan warga satu kampung untuk menjaga dan memadamkan api. “Jadi kalau ada apa-apa bisa diatasi,” kata dia.
Ketiga, harus ada orang-orang yang menyediakan air. “Selain itu pembakaran juga harus melihat arah angin, dan pembakaran dilakukan dari tepi,” Biasanya disertai dengan ritual adat (tirto.id, 24/8/2018)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *