Dua Kali Terpapar Covid, Petugas Ini Tetap Loyal Jalani Tugas

Majalahmataborneonews.com, Landak – Berjibaku dengan maut, rasanya istilah itulah yang lumayan tepat untuk menggambarkan pekerjaan yang dilakoni pria 52 tahun ini di tengah situasi pandemi Covid -19 yang tak jelas kapan berakhirnya, bahkan data dari Satgas nasional maupun daerah cenderung menunjukkan peningkatan dan semakin banyak daerah yang diberi label merah, karena tingginya angka penyebaran virus Corona di wilayah tersebut.

Demikian pula halnya dengan wilayah kabupaten Landak, Virus Covid-19 tak kunjung mereda, bahkan semakin meningkat jumlah yang terpapar diikuti angka kematian dikarenakan Covid. Pemerintah Kabupaten Landak pun bergerak cepat menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro guna meredam laju peningkatan penambahan kasus positive. Bahkan PPKM Mikro yang masih sedang berjalanpun ditambah lagi waktunya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bupati, dr. Karolin Margareth Nataysa, Senin (14/6/2021), bahwa PPKM berbasis mikro dilanjutkan lagi dari tanggal 15 Juni hingga 28 juni 2021 atau selama 2 minggu ke depan, hal ini didasarkan pada rapat koordinasi evaluasi perkembangan pelaksanaan PPKM mikro secara nasional, di mana  dikeahui angka Covid-19 yang masih tinggi.

Dari data update perkembangan kasus harian Covid -19, Senin (14/6/2021) di Indonesia, jumlah kasus aktif sebanyak 115.197, penambahan kasus positif  8.189, jumlah kasus sembuh 1.751.234 dan jumlah kasus meninggal dunia 53.116. Untuk kabupaten Landak sendiri telah ada 14 orang meninggal terkonfirmasi Covid (9/6/2021) lalu.

Bahkan ketika tulisan ini dibuat, narasumber mengabarkan bahwa hari ini pun, Rabu (16/6/2021) ada lagi pasien terpapar covid yang meninggal, setelah dua hari sebelumnya ada juga yang meninggal.

“ Tgl 14 Juni 2021 kemarin dengan tujuan Karangan Mempawah hulu, sekitar jam 3 subuh dan diantar jam 11.00 wib  juga ada yang meninggal, terkonfirmasi Covid. Hari ini nambah lagi yang ninggal tujuan Menjalin” ujar Lasimin petugas Sopir Ambulan RSUD Landak yang keseharian di masa pandemic Covid-19  harus siap berjibaku mengantar pasien terkonfirmasi maupun yang telah meninggal dunia terpapar virus Covid.

Ditemui di sebuah warung kopi di pasar kota Ngabang, Sopir ambulan paruh baya yang baru usai bekerja itu  terlihat lesu dan dari raut wajahnya tergambar rasa letih, namun tetap tersenyum manakalan di sapa dan tetap ramah meladeni ketika diajak bicara.

Pak Lasimin, demikian Ia disapa, menuturkan jikalau Ia sudah dua (2) kali terpapar Covid-19, dan baginya itu sebuah resiko pekerjaan. Dan kini, untuk menghindari terulangnya terjangkit lagi, Ia berupaya menerapkan protokol kesehatan khususnya pemakaian APD yang lengkap yang telah disediakan RSUD Landak, institusi di mana Ia mengabdikan diri.

Dituturkan oleh Lasimin, Pertama kali Ia  dinyatakan terkonfirmasi karena reaktif, ketika pandemic Covid-19 baru-barunya menyebar dan membuat heboh karena informasi terkait virus Covid atau Carona masih simpang siur, yaitu sekitar bulan Mei (5), Ia tidak ingat pasti hari dan tanggalnya. Yang Ia ingat bahwa Ia harus di karantina selama  2 Minggu, dan masih harus menunggu hasil Swab dari Jakarta selama 2 minggu juga. Jadi total Ia harus beristirahat selama 1 bulan.

Menunggu hasil swab yang cukup lama, 2 Minggu-an, tentunya membuat rasa was-was dan kekuatiran yang sangat menyiksa bagi Lasimin, karena virus Korona baru saja muncul dan mewabahi dunia, belum ada obat dan belum ada penemuan vaksin kala itu.

“Stres rasanya, kuatir dan pikiran diliputi rasa was-was. Yang dapat saya lakukan hanya berdoa serta mengkonsumsi makanan bergizi, buah, vitamin serta berolahraga sekitar rumah guna menjaga stamina tubuh” ujar Lasimin.

Setelah lelah menunggu selama 1 bulanan, hasil swab pun keluar dan dinyatakan negative. Hal itu tentunya sangat mengembirakan, membuat Ia kembali bersemangat bekerja lagi.

Sekitar Bulan Desember di penghujung tahun 2020, Lasimin mengaku kembali terpapar virus Covid-19, serta kurang ingat tepatnya tanggalnya. Yang Ia ingat adalah bahwa indera penciumannya mulai menurun dan akhirnya hilang tidak bisa membaui sesuatu. Ia pun kembali mengisolasi diri, di hari ke-10 Indera penciumannya kembali nomal, dan setelah hari ke-14 isolasi mandiri Ia kembali bekerja menggeluti profesi yang memang sangat beresiko terjangkit virus Covid, karena bersentuhan secara langsung dengan pasien Covid maupun mayat korban Covid.

“Setelah dua kali terpapar, saya semakin hati-hati dan berusaha mengunakan APD sebaiknya jika sedang bertugas dan berinteraksi dengan pasien maupun mayat korban Covid. Selebihnya ya berupaya menjaga imun tubuh dengan konsumsi makanan dan vitamin serta berolahraga”  ujar Lasimin, seraya menambahkan jikalau diawal-awal munculnya virus Corona  APD memang masih agak susah, namun sekarang telah tersedia setiap waktu dibutuhkan.

Lasimin sadar betul bahwa Ia adalah salah satu ujung tombak dalam menyelamatkan nyawa pasien yang masih bisa tertolong, ketika harus membawa dan menghantar pasien ke rumah sakit rujukan di manapun yang bersedia menerima pasien karena masih tersedia fasilitasnya.  Karena itu Ia selalu siap sedia memacu mobil Ambulan yang dikendarainya menuju umah sakit rujukan, baik itu di rumah sakit Pontianak, Sanggau, Mempawah, maupun Singkawang.

Bagi Lasimin, pekerjaan adalah tugas dan kewajiban yang harus diutamakan, apalagi pekerjaannya adalah menyangkut menyelamatkan  nyawa manusia dan berpacu dengan waktu. Jadi kapanpun, dimanapun, Ia selalu siap jika memang sudah menjadi tugasnya.

Haripun menjelang senja, minuman di gelas pun telah juga ludes, menyisakan ampas-ampas Kopi. Di ujung percakapan kami, Lasimin menyampaiakan harapannya kepada Pemerintah dan kepada masyarakat, khususnya warga kabupaten Landak.

Kepada Pemerintah, Ia berharap agar pemerintah pusat maupun daerah untuk memperhatikan para petugas medis baik materi maupun spritualnya untuk memberikan dorongan dan motivasi dalam bekerja. Sedangkan kepada warga masyarakat, Ia berharap agar mematuhi protokol kesehatan yang telah dianjurkan pemerintah, seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak atau menghindari kerumunan.

“Sampai hari ini di bulan Juni, sudah ada 16 orang yang meninggal karena Covid, dan kami bolak-balik setiap harinya mengantar yang butuh rujukan maupun membawa yang sudah jadi mayat. Jadi harus benar-benar mematuhi protokol kesehatan agar tetap bisa selamat” ujar Lasimin, mengakhiri obrolan kami di sore hari ini, Rabu (16/6/2021. (Sahat)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *