Asa Saling Jaga di Tengah Pandemi ala Warga Pesisir Singkawang 

Majalahmataborneonews.com, Singkawang –Saling jaga. Inilah gambaran warga saat tengah pandemi. Hal ini penting, karena saling jaga dan mengingatkan satu sama lain adalah keharusan saat ini.

Adalah Imam Maksum nama lengkapnya. Pria berusia 23 tahun ini merupakan  warga Kelurahan Sedau, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat.

Dia bercerita saling jaga di tempatnya. Warga di sana kompak saling jaga. Selain itu, karena banyak sekali potensi wisata di tempatnya, maka protokol kesehatan juga dititik beratkan. Pantai Teluk Karang adalah tempat tujuan wisatawan, akan tetapi mereka yang datang kesana harus mengikuti protokl kesehatan.

“Wisata dapat, sehat juga,” tuturnya hari ini seraya nemambahkan, “Kalau pagi, kayak ‘surga’ di tempat kami. Susah sekali membedakan antara pagi dan petang jelang malam saat matahahari terbit dan tenggelam: jingga,”.

Dia bercerita, sebelum dikenal sebagai pantai Batu Burung, menurut sejarahnya, masyarakat sekitar lebih kenal dengan nama pantai Teluk Mak Jantu atau pantai Teluk Karang. Karena pantai ini persis berada di teluk yang istilahnya lautan yang menjorok ke daratan.

Patuh Protokol Kesehatan

Dia bilang, saat pandemi COVID-19  warga berkunjung kesana tetap patuh protokol kesehatan; mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak. Saling mengingatkan satu sama lain akan protokol kesehatan di sana menjadi keharusan warga setempat danwarga  yang datang ke pantai.

“Intinya kami di sini, saling jaga dan memberitahu soal protokol kesehatan di masa pandemi ini. Pada swafoto di sini dan mengunggahnya di sosial media mereka. Soalnya kan pada saat matahari tenggelam, mereka suka,” ucap pria penyuka fotografi dan professional areal foto udara (drone).

Namun begitu, dia resah. Permasalahanya adalah pendahnya pendapatan warga masih menjadi masalah di Teluk Karang, Kelurahan Sedau, khususnya warga RT 039/ RW 007.

“Sebagai masyarakat yang tinggal di pesisir ini, warga Teluk Karang tidak bisa berharap banyak dengan hasil melaut. Hasil tangkap ikan yang rendah membuat propesi nelayan di Teluk Karang makin tahun semakin menyusut,” ucapnya yang berharap pihak terkait memeperhatikan warga pesisir pantai utara itu. “ Kami tetap bertahan di tengah pandemi. Kami bertani cocok tanam di darat. Menanam sayur mayur, ternak ayam, nanam padi, tenak ikan nila,” kata Imam Maksum.

Kota Singkawang terletak di sebelah utara  Kota Pontianak, ibu kota provinsi Kalimantan Barat. Memerlukan perjalanan darat selama 3-4 jam untuk sampai ke Kota yang akrab disebut kota Seribu Kelenteng ini.

“Jika perjalanan menggunaka n sepeda motor, dari Kota Pontianak ketika matahari mulai tenggelam. Teluk Mak Jantu yang terletak di wilayah Kelurahan Sedau adalah tempat saya. Keindahan alam yang ada di kampung Teluk Karang berupa pantai pasir putih dan batu karang yang  ada di tepian pantai. Selain itu ada perbukitan yang mengelilinginya,” kata dia.

Dia bercerita, ketika matahari terbit pesona di pantai ini sangat indah. Begitu pula ketika matahari tenggelam, sunset di pantai ini juga memiliki pesona yang begitu indah. Ketika air laut surut maka hamparan pasir putih menjadi daya tarik, batu karang yang ada di pesisir semakin kelihatan.

“Masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan. Namun karena hasil tangkap ikan yang makin tahun semakin menyusut, tidak sedikit yang meninggalkan profesi ini. Banyak faktor yang mengakibatkan hasil tangkap ikan warga menurun, selain faktor iklim, faktor kerusakan lingkungan juga memberi andil,” kata pria lulusan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Pontianak Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam konsentrasi jurnalistik ini.

Sebagai daerah pesisir pantai, Teluk Karang punya potensi wisata. Ini dapat terlihat dari beberapa tahun belakangan. Sejak dikelolanya salah satu ikon di pantai ini yakni batu burung, oleh perorangan secara swadaya, pantai ini ramai dikunjungi.

Pantai Batu Burung menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Ini karena, setiap akhir pekan pantai ini selalu ramai dikunjungi. Banyak yang datang sekadar untuk melihat indahnya pantai, ada juga yang mejadikan batu burung sebagai spot foto.

Batu burung yang dimaksud adalah gugusan batu karang yang berkuran besar. Ada jembatan sepanjang kurang lebih 150 meter dari bibir pantai ke batu yang relatif besar ini. Lebar jembatan sekitar 2 meter ini cukup dilalui untuk berjalan kaki.

“Ini aset luar biasa. Dan tentunya, saya berdoa semoga pandemi berakhir. Dan usaha warga berjalan seperti biasanya,” ucap Imam Maksum yang mengaku tiada lelah hentinya selalu mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan dan menerapkan protokol kesehatan di mana pun berada. Saling saja, itulah kuncinya.

Rincian kasus COVID-19

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr Harrison merinci total kasus konfirmasi  COVID-19 berjumlah 10.816 orang. Kasus sembuh  10.004 orang (92,49 persen). Kasus aktif  718 orang (6.63 persen)

“Meninggal 94 orang (0,86  persen),” kata dia pada Minggu (30/5/2021).

Berikut total sampel yang diperiksa 830 orang. Konfirmasi baru 133 orang (34 orang dirawat di rumah sakit):

  1. Kota Pontianak : 27 orang
  2. Kab Kayong Utara : 2 orang
  3. Kab Ketapang : 6 orang
  4. Kab Kubu Raya : 12 orang
  5. Kab Landak : 11 orang
  6. Kab Mempawah : 15 orang
  7. Kab Sambas : 5 orang
  8. Kab Sanggau : 2 orang
  9. Kab Sekadau : 25 orang
  10. Kab Kapuas Hulu : 2 orang
  11. Kota Singkawang : 1 orang
  12. Kab Sintang : 1 orang
  13. Kab Melawi : 23 orang
  14. Luar wilayah : 1 orang

Konfirmasi Sembuh 114 orang:

  1. Kota Pontianak : 17 orang
  2. Kab Kubu Raya : 5 orang
  3. Kab Landak : 35 orang
  4. Kota Singkawang : 4 orang
  5. Kab Mempawah : 4 orang
  6. Kab Sambas : 6 orang
  7. Kab Sanggau : 27 orang
  8. Kab Bengkayang : 5 orang
  9. Kab Sekadau : 3 orang
  10. Kab Kayong Utara: 1 orang
  11. Kab Ketapang : 1 orang
  12. Kab Sintang : 1 orang
  13. Kab Kapuas Hulu : 5 orang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *