Tak Hanya Berprestasi, Petani Disabilitas Ini Juga Motivasi Milineal Terjun Ke Bidang Pertanian

Majalahmataborneonews.com, Landak – Didaulat sebagai Petani berprestasi tingkat kabupaten pada tahun 2021 ini, oleh dinas kabupaten Landak. Tentunya merupakan kebanggaan yang istimewa bagi penyandang disabilitas yang bernama Silvanus Supin, S.Th ini. Dedikasi dan kerja kerasnya dalam mengolah lahan selama ini tidaklah sia-sia. Selain memperoleh penghasilan yang lebih dari cukup, kini profesi sebagai petani yang telah digelutinya sejak 1996 itu menghantarkannya mendapat penghargaan dari Pemerintah daerah.

Kekurangan fisik yang hanya memiliki satu tangan, tak menyurutkan semangatnya mengembangkan lahan pertaniannya dengan berbagai komoditas pertanian, seperti aneka sayuran, padi, beternak hingga mengelola kebun Sawit.

Keberhasilan dan kerja kerasnya ternyata tidak hanya untuk dirinya sendiri, Ia juga berupaya membagikan pengetahuannya kepada sesama petani, karena itu Ia juga membentuk kelompok tani dan memfasilitasi petani lainnya untuk membentuk kelompok agar bisa dibina oleh pemerintah melalui dinas pertanian.

Supin juga mengharapkan agar semakin banyak para milineal atau anak muda mau mengolah lahan sebagai petani, karena menjadi petani jika dilakoni dengan benar justru memberikan penghasilan yang lebih dari cukup seperti yang Ia telah rasakan saat ini.

“Para milineal tidak perlu malu menjadi petani, karena menjadi petani itu jika ditekuni dengan serius tentunya akan memberikan hasil yang baik juga. Selain itu profesi tani menjadikan kita sebagai bos karena kita sendiri yang mengatur. Masa depan petani sangat menjanjikan, karena produk hasil pertanian sangat dibutuhkan, tinggal bagaimana mengelola strategi marketingnya yang memberikan nilai ekonominya lebih besar” ujar Supin bersemangat.

Menurut Supin, semakin banyak anak muda yang mau menggeluti profesi tani selain membuka lapangan pekerjaan bagi diri sendiri dan orang lain, juga bisa menyelamatkan lahan-lahan yang ada dikampung yang saat ini semakin berkurang karena dijual kepada perusahaan maupun kepada pendatang.

“Lahan kita di kampung semakin berkurang, padahal ke depannya kita sangat membutuhkan lahan-lahan tersebut untuk anak cucu kita yang beranak pinak. Karena itu jangan dijual, sebaiknya diolah sendiri, belajar menjadi petani professional dengan teknologi pertanian. Dinas terkait pasti mau membantu, yang penting dikerjakan dengan baik, pasti akan memberikan hasil yang cukup. Dan yang terpenting lahan tetap menjadi miliki kita. Jangan sampai kita jadi kuli di tanah sendiri” pesan Supin.

Diakui oleh Supin, persoalan pemasaran dan harga menjadi kendala utama bagi para petani. Terkadang harga yang dipatok oleh pedagang pengepul jauh dari harga pasaran, hal ini juga yang terkadang membuat petani jadi patah semangat dan meninggalkan profesinya, karena hasil yang diperoleh tak sebanding dengan kerja keras. Oleh karena itu Supin berharap Pemerintah daerah melalui instansi terkait seperti dinas Pertanian, Perkebunan maupun dinas Koperasi dan Perdangan turut serta membantu para petani.

“Selain membantu petani dalam mengolah lahan dengan  teknologi pertanian yang tepat, maka Pemerintah Daerah juga hendaknya memfasilitasi dalam hal kestabilan harga yang menguntungkan petani, karena dalam harga hasil pertanian terkadang dipermainkan oleh pedagang pengepul yang membeli komoditas tani dengan harga yang rendah dan merugikan petani. Karena itu Pemerintah harus membantu dalam hal harga ini” ujar Supin.

“Jika harga komoditas pertanian itu baik dan menguntungkan, saya yakin akan semakin banyak anak muda mau bercocok tanam, lahan-lahanpun pasti akan diolah sendiri” ujar Supin.

Seraya mencontohkan harga TBS Sawit yang tinggi saat ini menyebabkan orang-orang bergairah untuk berkebun Sawit. Persoalannya berkebun Sawit butuh dana besar dan membutuhkan waktu tahunan untuk memperoleh hasil, sedangkan bercocok tanam komoditas pertanian seperti sayuran, padi serta buah yang umur tanam singkat  tidak membutuhkan biaya produksi yang besar dan memberikan hasil yang juga cepat serta mampu dijangkau oleh Petani yang baru mau memulai maupun petani di kampong, jelas Supin. (Sahat)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *