Pria di Kecamatan Mandor Tega Setubuhi Anak di Bawah Umur

Ilustrasi Kasus Persetubuhan Anak di Bawah Umur

Ngabang, Landak – Seorang anak berusia 9 tahun menjadi korban persetubuhan oleh seorang pria berinisial D (27) yang tidak lain adalah paman kandungnya di rumah orang tua korban di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, Jum’at (8/1/2021)

Kasat Reskrim Polres Landak, IPTU Sugiyono mengatakan yang menjadi korban pemerkosaan masih berstatus pelajar dan aksi bejat pelaku dilakukan pada saat tidak ada seorang pun di rumah selain korban yang pada saat itu sedang tidur.

“Pelaku memperkosa korban sebanyak 1 kali pada saat korban sedang tidur dengan cara pelaku membuka paksa pakaian korban dan karena korban masih kecil sehingga tidak mampu melawan,” ucap Sugiyono.

Sugiyono menjelaskan awal mengetahui terjadinya pemerkosaan tersebut pada saat ibu korban pulang ke rumah melihat anaknya sedang menangis dan saat ditanya mengatakan bahwa telah diperkosa oleh pamannya sendiri mendengar cerita tersebut Ibu korban bersama korban langsung melapor ke Polsek Mandor.

“Yang mengetahui pertama kejadian tersebut adalah ibu kandung korban yang pada saat pulang kerumah melihat anaknya menangis setelah ditanya diperkosa oleh (D) yang tidak lain adalah paman korban,” ungkap Sugiyono.

Sugiyono menuturkan usai mendapatkan laporan tersebut personel Polsek Mandor melakukan penangkapan terhadap pelaku yang pada saat itu berada di rumah keluarga korban yang tidak jauh dari rumah korban.

Sugiyono menerangkan saat dimintai keterangan oleh penyidik pelaku mengakui perbuatannya dan pada saat melakukannya pelaku mengatakan khilaf.

“Ya, pada saat setelah mendapat kan laporan personel Polsek Mandor langsung melakukan penangkapan terhadap pelaku dan saat di mintai keterangan pelaku mengatakan khilaf,” jelas Sugiyono.

Sugiyono menambahkan saat ini pelaku kami kenakan undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak dan untuk penanganannya pun ditangani oleh unit PPA Polres Landak.
“Pelaku akan kami jerat sesuai dengan perbuatannya yaitu persetubuhan terhadap anak di bawah umur sebagaimana dimaksud dalam pasal 76D undang – undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak Jo Pasal 81 Undang – undang RI Nomor 17 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang – undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi Undang – undang,” Terang Sugiyono.

“Ancaman hukumannya pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) selain itu proses penanganan selanjutnya akan dilakukan di Polres Landak dikarenakan selain di Polsek Mandor tidak ada Polisi Wanita (Polwan) untuk memeriksa korban untuk unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) adanya di tingkat Polres,” tambah Sugiyono.

Penulis : Tim Liputan
Editor : Tullahwi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *