Geliat Pers Di Tengah Gempuran Medsos (Sebuah Catatan Dihari Kebebasan Pers Dunia 3 Mei 2020) By : L. Sahat Tinambunan

Dunia hari ini memperingati kebebasan Pers. Tanpa pers yang bebas dan independen demokrasi tak akan pernah bisa berjalan dengan semestinya. Pers tidak hanya sekedar mewartakan sebuah peristiwa untuk diketahui khalayak. Tetapi pers juga memiliki peran sebagai control social dalam sebuah system dunia maupun negara. Melalui pers keterbukaan informasi public dapat terwujud, masyarakat mengetahui dengan jelas perilaku penguasa dalam bernegara.
Di masa pemerintahan reformasi BJ. Habibie, kebebasan pers di negeri ini coba untuk diwujudkan dengan dikeluarkannya UU Pers Nomor 40 Tahun 1999, meskipun dalam implementasinya masih jauh dari harapan. Namun setidaknya dengan adanya UU Pers tersebut telah memberikan jaminan kepada para Jurnalis untuk dapat menjalankan profesinya meskipun dengan banyak kendala dalam upaya mengakses informasi-informasi yang harusnya bisa juga diketahui oleh publik.
Di era digitalisasi saat ini, tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh pers sebagai media mainstream adalah membangun eksistensi dan kepercayaan publik di tengah gempuran media sosial yang marak dan massif. Publik secara gampang mengakses dan memperoleh informasi melalui medsos, bahkan saat ini semua orang yang memiliki Gadget atau HP Android dipastikan telah menjadi pewarta. Disadari atau tidak, takkala ia membuat status berisikan sebuah peristiwa dan mengunggahnya ke medsos, dan seketika informasi itu dapat diakses secara terbuka oleh publik. Maka informasi itu telah menjadi sebuah komoditas produk jurnalistik juga, meskipun nilai tidaklah sama dengan yang dihasilkan oleh para jurnalis dari pers.
Jadi tidaklah mengherankan jikalau saat ini informasi hoak tumbuh subur bak jamur di musim hujan, Medsos adalah wadah tempat memproduksi berita-berita hoaks tersebut. Dan celakanya kebanyakan masyarakat mempercayainya dan ikut menyuburkannya dengan mengshare atau membagikan kembali informasi tersebut. UU IT tak cukup ampuh membendung informasi hoak ini. Sementara Pers dengan media berlegalitasnya harus bersusah payah mengimbangi laju kecepatan informasi yang berseliweran di medsos. Meskipun pada akhirnya media per konvensional dan pers online tetap menjadi rujukan bagi sebagian masyarakat atas kebenaran sebuah pemberitaan.
Tak hanya soal konten hoaks, medsos juga telah menjadi tempat beriklan bagi masyarakat saat ini, tidak hanya iklan promosi berjualan barang, atau iklan informasi lowongan kerja, tetapi juga iklan ucapan hari raya. Baner-baner berbagai ucapan hari raya memenuhi medsos facebook dan lainnya, baik oleh masyarakat awam, maupun baner ucapan para pejabat. Dari pejabat sekelas Kades hingga Pejabat tinggi lainnya. Sementara media pers resmi terkadang hanya bisa gigit jari karena sepi dari orderan iklan tersaingi oleh media medsos yang serba gratis.
Itulah dilematis tantangan pers di era digital saat ini, disatu dsisi pers dibutuhkan sebagai penyeimbang dan control sosial bagi berjalannya pemerintahan yang baik dan bersih serta tegaknya demokrasi, serta melawan gempuran informasi hoaks di medsos. Disisi lain pers harus memperjuangkan eksistensinya agar tetap dapat beroperasional dengan pendapatan yang minim dari sector iklan karena tak mampu bersaing dengan medsos yang iklannya tak berbayar. Butuh kesadaran dan kebijakan masyarakat dan para pejabat memang agar Pers tetap bisa eksis melakukan peran control sosialnya. “Selamat hari kebebasan Pers Kepada Semua Wartawan Dimanapun Berada – Salam Hormat” ( Penulis : Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Landak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *