Catatan Suram Hari Buruh “Mayday” Di Masa Pandemi Korona

Peringatan Mayday atau hari buruh sedunia (1 Mei) kali ini tak seperti biasanya. Tak ada aksi demontrasi para buruh yg biasanya memenuhi jalanan dengan poster-poster dan orasi yang berisi tuntutan perjuangan perbaikan kesejahteraan. Bahkan agenda Omnibuslaw yg ramai diperdebatkan karena terindikasi merugikan para buruh pun tak bisa diprotes melalui aksi jalanan dimoment peringatan hari buruh kali ini.

Badai pandemi virus covid-19 atau Korona memang telah mengubah segalanya di dunia ini, jalanan lenggang dan sunyi tanpa keriuhan dan polusi. Orang-orang yang biasanya begitu sibuk dengan berbagai aktivitasnya memenuhi jalanan terpaksa harus diam dan bersembunyi di rumah menunggu dengan ketidakpastian kapan badai ini berlalu. Perusahaan manufaktur yang padat karya terpaksa mengurangi pekerjanya. Gerai-gerai di mall, industri pariwisata dengan segala turunannya tak luput dari badai pengurangan tenaga kerja. Semua sektor usaha dipastikan terimbas dan terkena dampak yang ujung-ujungnya adalah pengurangan para pekerja alias PHK

Mayday di tahun 2020 kali ini sungguh menyimpan catatan suram dan kelam bagi para buruh di manapun di dunia ini, tak terkecuali di Republik ini. Ada banyak buruh terpaksa harus tersingkir dari pekerjaan dan mungkin akan semakin banyak jika pandemi Korona tak lekas berlalu di muka bumi ini. Celakanya PHK massal kali ini tanpa perlawanan yang berarti dari para buruh, tidak juga di hari sakral “mayday” kali ini. Karena PHK kali ini, bukan maunya Pengusaha atau Pemilik modal, tetapi akibat force mayor covid-19.

Seperti kata pepatah “Badai pasti berlalu”, demikian pula dengan badai pandemi virus covid-19 ini, suatu saat dipastikan tertangani dan kehidupan akan kembali seperti sediakala. Sementara menanti badai Korona berlalu, tiada kata lain yang lebih baik, selain menaati anjuran Pemerintah dan memanfaatkan program stimulus yang ada termasuklah program pra kerja. Bagi yang masih punya lahan di pedesaan, membuka lahan untuk bercocok tanam menjadi alternatif sumber penghasilan baru ditengah pandemi yang belum jelas kapan akan berakhirnya.

Slogan politik yang jadi jargon perjuangan para buruh; “Pekerja dari semua negeri, bersatu” sebagaimana yang tertulis di Nisan makamnya Karl Marx – Proletarier aller Lander vereinigt Rich. Di May Day kali ini mungkin tidak ditujukan lagi bagi para kapitalis dan penguasa, tetapi ditujukan bagi pandemi virus Korona yang telah buat buruh susah dan semua kita juga susah. “Selamat Hari Buruh-May Day. Mari Bersatu berantas Korona” (L. Sahat Tinambunan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *