Urusan Sampah Tak Ada Benarnya , Dari Prilaku Hingga Pengelolaan Akhirnya

Namanya juga sampah,  disepelekan namun  bisa panjang urusannya.  Tiga (3) hari yang lalu, Selasa (28/01/2020) sehabis  Magrib dan menjelang Isya, saat gelap mulai menyapa. Penulis membawa sekantong besar sampah untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPAS) di depan kompleks. Sekantong sampah tersebut langsung  Penulis lempar ke penampungan, dan celakanya mengenai  seorang bapak Pemulung yang sedang mengais kedalam bak penampungan tersebut, dengan segera Penulis minta maaf.

Peristiwa ke dua, hari berikutnya, Pagi sekitar jam 07.30 wib. Penulis menyaksikan langsung seorang berpakaian ASN menggunakan  motor berplat merah, melemparkan sekantong Sampah, di sisi jalan didekat Bak penampungan, bukan di dalam bak penampungannya. Pagi ini, Jum’at  (31/01/2020) hari ini, di depan pasar Rakyat Ngabang, sampah-sampah berserakan hingga ke jalan raya, bak sampah tak difungsikan.  Selain mengeluarkan aroma yang tak sedap, juga menganggu pengguna jalan.

Sampah tak hanya jadi masalah di daerah saja, tetapi juga nasional bahkan internasional. Karena persoalan sampah menyangkut lingkungan  yang suka atau tidak suka berdampak langsung secara global. Bedanya di Negara maju manajemen sampah sudah tertata dengan baik, khususnya di daur ulangnya. Demikian pula dengan perilaku warganya, budaya hidup bersih telah mengakar dengan baiknya, sehingga pastinya kotanya tertata bersih rapi. Misalnya ketika terjadi banjir di Jepang airnya begitu jernih mengalir, bandingkan ketika banjir di Jakarta, sampah-sampah bermunculan. (Silakan di Geogling).

Selain masih buruknya pengelolaan sampah di Negara kita umumnya dan daerah khususnya, maka persoalan perilaku dan kesadaran warga terhadap sampah juga sangatlah buruk. Termasuklah penulis (hehehe), begini ceritanya mengapa buruk. Sampah rumah tangga yang biasanya tiap sore atau pagi kita lemparkan ke Tempat Pembuangan atau Bak Sampah ternyata membaur; ada sampah plastik entah kantong kresek, botol mineral dan jenis plastik lainnya, lalu ada sampah sisa sayuran dan makanan lainnnya dan ada sampah berupa kertas-kertas. Semua sampah tersebut kita masukkan ke dalam satu  kantong dan dilempar ke bak sampah, syukur masuk ke baknya, biasanya malah berserakan disekitar bak, selesai urusan. Lainnya urusan  Petugas kebersihan serta Pemulung yang bekerja.

Semestinya yang harus kita lakukan adalah memilah sampah tersebut dalam kantong-kantong yang berbeda disesuaikan jenisnya, setidaknya ada  dua (2) kantonglah minimalnya; Satu untuk sampah semacam sisa sayuran, buah dan makanan lainnya (Organik) gampang terurai dan bisa jadi pupuk. Kantong kedua untuk menyimpan sampah plastic, kantong kresek, botol plastic, kaleng (Anorganik) bisa dijual ke penampung rongsokan atau dihibahkan ke para Pemulung.  Selanjutnya sebaiknya sampah tersebut dibuang atau dilemparkan ke dalam bak sampah,  sehingga tidak berserakan dipinggir jalanan dan merepotkan petugas pengangkut sampah. Yuk kita mulai dari sekarang kita benahi cara menangani untuk  sampah rumah tangga. Urusan sampah selanjutnya,  Dinas yang menangani soal sampah sebaiknya mulai meningkatkan teknologi daur ulangnya. Bukan cuman siapkan TPA lalu bakar….., persoalan jangka panjangya bro/sis? sampai kapan bakar, sementara sampah anorganik tak terurai. (L. Sahat Tinambunan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *