Imlek, Ingat Gus Dur

Tanpa Gus Dur,  hari raya Imlek  pastinya takkan dirayakan semeriah seperti saat ini, Jumat (24/01/2020).  Lampu lampion merah semarak warnai  kota, letusan Mercon,  tembakan-tembakan kembang api  berpijar  terangi dan warnai langit malam. Klenteng atau Tepekong meriah dan ramai dikunjungi.  Kemeriahan itu, tak hanya dinikmati oleh warga peranakan Cina saja, tetapi masyarakat lainpun sepertinya turut merasakan kemeriahan tersebut.  Keramaian dan kemeriahan Imlek ini tak selesai dan berhenti pada hari raya resmi saja, tetapi akan terus berlanjut hingga puncaknya pada perayaan Cap Goh Meh. Rentang dari perayaan Imlek menuju hari perayaan Cap Goh Meh, hari-hari  akan disemarakkan dengan tarian Barongsai yang tiada henti dan silih berganti mendatangi rumah-rumah warga keturunan Cina untuk mengambil Anggpao. Sungguh fantastis dan sangat menghibur semua warga kota tanpa terkecuali. Baca juga artikel terkait Fenomena Etnis Cina Dalam Kebhinekaan

Kemeriahan Imlek, Barongsai, Cap Goh Meh itu. Tidaklah serta merta adanya seperti sekarang ini.  Jauh sebelum reformasi tahun 1999, warga keturunan Cina hanya bisa merayakannya secara diam-diam dalam komunitasnya, tak ada pertunjukkan Barongsai. Tepekong atau Klenteng kecil-kecil dan tersembunyi tak megah.  Petasan dan kembang api pun hanya ala kadarnya, dan dihidupkan secara sembunyi-sembunyi, tak dipertontonkan pada publik. Bahkan kala itu Negara melalui rezim Soeharto mengeluarkan Inpres No. 14/1967 Tentang Larangan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina.  Praktis apapun yang berbau Cina dilarang, bahkan namapun tidak dibenarkan menggunakan nama Cina harus yang berbunyi dan tulisannya Indonesia. Tak heran bila ada rekan-rekan kita dari keturunan Cina generasi X di bawah tahun 2000-an memilik nama ganda. Nama resmi untuk sekolah dan surat-surat legalitas bertuliskan Indonesia, tetapi juga memiliki nama Cina.  Masa Orde Baru, patutlah dicatat sebagai masa kesuraman dari agama kepercayaan Konghucu dan adat istiadat budaya Cina. Setelah sebelumnya di masa Orde Lama juga terkena larangan diskriminatif lainnya di bidang ekonomi. (Segera terbit artikel : Hegemoni Bisnis Warga Keturunan Cina)

Gus Dur lah tokoh sentral dan pembebas bagi warga keturunan Cina itu, pasca reformasi bergulir di tahun 1998 yang melengserkan Soeharto. Di era kekuaasannya sebagai presiden tahun 2000, Abdurahman Wahid yang lebih dikenal sebagai Gus Dur, mencabut inpres diskriminatif yang melarang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Dan di masa pemerintahan Gus Dur lah kali pertama perayaan Imlek diadakan secara Nasional yang diikuti dengan diresmikan agama Kong Hu Cu sebagai agama resmi Negara.  Kini lampion-lampion merah itu, bunyi petasan, pijar kembang api warnai kota-kota yang dihuni oleh para warga keturunan Cina, yang dengan senyum sumriah dan berbahagia merayakannya. “Selamat Merayakan Imlek, Gong Xi Fat Coi” (L. Sahat Tinambunan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *