“PETI” Seperti Tom and Jery

Tanah Kami tanah kaya, Laut Kami laut kaya. Kami tidur di atas Emas, Berenang di atas minyak, Tapi bukan kami punya semua anugerah itu.  Kami cuman berdagang buah-buah pinang  (Suara Dari Kemiskinan; syair – Franky Sahilatua)

Indahnya kilau Emas- Berlian yang dikenakan ternyata menyimpan sisi gelap yang tak pernah disadari oleh pemakainya. Seperti rusaknya hutan, tercemarnya sungai-sungai, bergesernya tatanan nilai sosial serta kemiskinan yang tetap mendera masyarakat sekitar lokasi tambang.  Untuk sekedar mendapatkan 1 gram Emas dan sebutir Berlian, berarti harus membabat hutan, membongkar perut bumi, mengotori dan mencemari air sungai, bahkan korban nyawa dari pekerja tambangpun berjatuhan. Namun aktivitas tambang yang rakus lahan dan air ini tetap terus menggeliat dari waktu ke waktu, baik yang legal maupun illegal alias PETI.

Jauh sebelum Republik ini berdiri, pertambangan khususnya Emas telah dikenal dan diusahakan sejak zaman Kerajaan hingga Kolonial Belanda, para Imigran dari Tiongkok pun didatangkan untuk dipekerjakan di tambang-tambang itu. Jejak peradaban masyarakat Cina nusantara , khususnya di tanah Borneo adalah sejarah dimulainya pertambangan itu sendiri, telusurilah kampung-kampung di Kalbar yang berbau nama Cina, maka diwilayah itu akan diketemukan lahan yang mengandung Emas yang kini dikerjakan dan diusahakan masyarakat dengan sebutan PETI alias Pertambangan Tanpa  Ijin.

Republik ini pun awalnya dibangun dan dibiayai dari hasil membongkar dan menyedot perut bumi, sejak tahun 1963 melalui UU Pertambangan, Negara mengijinkan perusahaan-perusahaan asing dan nasional mengeksplorasi tambang dalam skala besar, khususnya Minyak Bumi, Emas, Timah, Batu Bara hingga Bouksit. Meskipun era booming Minyak telah usai karena cadangan minyak telah menipis dan posisi Indonesia kini sebagai pembeli/pengimpor . Perusahaan-perusahaan pun telah beralih menambang bahan mineral lainnya yang masih ada, seperti Batu Bara, Emas, Bouksit, dan sebagainya. Pertambangan menjadi sumber pendapatan Negara setelah era Minyak dan Kayu telah habis.

Demikian pula halnya dengan pertambangan tradisional atau PETI yang menjadi sumber pendapatan bagi beberapa penduduk lokal yang baru beberapa tahun terakhir getol mengusahakannya sebagai upaya menambah penghasilan, setelah berladang dan menyadap karet mulai tak mencukupi untuk kebutuhan hidup. Tingginya harga jual Emas dan Intan, mudah dijual, mudah memperoleh mesin Dom Feng (Peralatan menambang) dan Mercury di pasaran setempat membuat aktivitas pertambagan tradisional oleh masyarakat setempat makin getol dilakukan tanpa melihat lagi dampak dari kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Baca juga Dibalik Tambang Ilegal “PETI” Ada Tangis Pekerja & Tawa Tauke

Ruang untuk melegalkan aktivitas pertambangan rakyat itu terbuka melalui konstitusi/UU Pertambangan – WPR (Wilayah pertambangan rakyat), tinggal kemauan dan kebijakan dari Penguasa dan Politisi lokal untuk melegalkannya. Atau  tetap meminggirkannya dan mencapnya dengan sebutan “PETI” sebagai dalang dari rusaknya lingkungan dan tercemarnya daerah aliran sungai. Seketika diburu untuk ditertibkan, dilain waktu aktivitas PETI kembali marak. Tak terhitung berapa besar dana telah terbuang untuk penertiban, entah berapa banyak Emas dan Intan telah dihasilkan yang merugikan Negara, dan hanya dinikmati para Spekulan/Cukong  tanpa bisa tersentuh pajak karena illegal.  PETI seperti tokoh kartun  Tom and Jery, sesaat  menggebu-gebu untuk ditertibkan, tak berapa lama marak kembali, sementara Touke penikmat rente senyum-senyum kipas-kipas; beli Emas-Intan Berlian, jual Mercury, jual  Mesin Dom Feng. “ Ngai untung  le……” (L. Sahat Tinambunan; Tulisan  telah dipublikasikan di Majalah Mata Borneo, Oktober 2014 : Membongkar Perut Bumi Demi Kilau Emas-Berlian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *