Dibalik Tambang Ilegal “PETI” Ada Tangis Pekerja & Tawa Tauke

Bicara pertambangan rakyat bearti membuka lembar kisah perjuangan rakyat jelata yang mencoba bermimpi menjadi kaya atau hanya sekedar bertahan untuk hidup dibumi yang sebenarnya sangat kaya dengan hasil tambang yang konon jika dikelola dengan bijak akan mampu mensejahtera seluruh rakyat nusantara ini…

Namun realitas berbicara lain, rakyat tak kunjung sejahtera, malah menuai bencana seperti yang terjadi pada kasus lumpur Lapindo. Atau seperti pada cerita masyarakat di Papua yang konon tak pernah merasa sejahtera dengan keberadaan perusahaan raksasa Freeport yang telah mengeksploitasi kekayaan alam Papua yang luar biasa namun ternyata memberikan kontribusi yang terlalu kecil bagi masyarakat Papua, dibandingkan kerusakan lingkungan dan dampak sosial yang telah ditimbulkan. Dan takkala Papua bergolak kini, mungkin ketidakadilan yang mereka dapat merupakan akar permasalahannya.

Kalimantan Barat sebagai salah satu provinsi termiskin di bumi Borneo, sudah barang tentu juga memiliki berbagai kisah seputar pertambangan, khususnya pertambangan yang dilakukan oleh masyarakat,  baik itu pertambangan Emas yang lebih populer dengan istilah PETI (Pertambangan Emas Tanpa Ijin) .  Aktivitas PETI ini mungkin merupakan fenomena tersendiri karena merata  ada disemua kabupaten dan diyakini merupakan penyumbang kerusakan lingkungan cukup besar, khususnya pencemaran sungai, karena dimana ada aktivitas PETI sudah pasti akan membuat air sungai berubah menjadi keruh dan tak layak dikonsumsi, ditambah lagi dengan adanya zat berbahaya yaitu Mercury yang digunakan oleh para penambang Emas.

Yang pasti aktivitas pertambangan telah memberikan kontribusi  berupa kerusakan lingkungan dan pencemaran air sungai bagi masyarakat sekitarnya, sedangkan kontribusi untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat sekitar lokasi pertambangan, maupun pekerja tambang masih menjadi tanda tanya besar??? Karena dibalik aktivitas pertambangan rakyat tersebut yang bercucuran dengan keringat dan darah, penikmat hasil tambang yang sebenarnya adalah para Touke (Pemilik modal), pekerja dan masyarakat sekitar sepertinya hanya kebagian serpihan-serpihan kecil dari manisnya hasil tambang yang ada. ( L. Sahat Tinambunan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *