Semangat Inovatif & Kreatif Pemuda Sikapi Bonus Demografi Dalam Era Globalisasi (Refleksi 91 Tahun Hari Sumpah Pemuda)

Bayangkan saja jika  91 tahun lalu, tepatnya pada tanggal  27-28 Oktober  1928, para pemuda dari berbagai daerah yang disebut sebagai Jong pada masa itu batal menyelenggarakan kongres yang saat ini dikenal sebagai  “Sumpah Pemuda”.  Bisa jadi yang namanya Negara Indonesia tak akan pernah ada di Peta Dunia saat ini. Peristiwa selanjutnya adalah Rengasdengklok, dimana para pemuda menculik dan memaksa Soekarna dan Moh. Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945. Dan begitu banyak rentetan peristiwa bersejarah lainnya yang digerakkan para pemuda, termasuklah gerakan reformasi yang melengserkan rezim Orba – Soeharto.  Gerakan pemuda di masa lalu adalah tonggak kemerdekaan, gerakan pemuda saat ini dan nanti adalah untuk kejayaan dan kemajuan negeri ini. Betapa pemuda memiliki peran sangat penting untuk keberlangsungan dan keberhasilan Negara ini menuju Indonesia yang unggul.

Soekarno, presiden pertama Republik ini, bahkan punya ungkapan yang terkenal pada masanya tentang pemuda yang menggelorakan semangat hingga saat ini; “Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Tentunya pemuda yang dimaksud bapak pendiri bangsa itu adalah pemuda yang berilmu yang memiliki keahlian dalam berbagai bidang khususnya IPTEK.  Sebagai bangsa yang besar dengan penduduk terbesar ke 5 di dunia, tentulah pemuda yang dimiliki bangsa ini sangatlah melimpah. Apalagi dekade saat ini  Indonesia memperoleh bonus demografi, dimana jumlah pemuda atau usia produktif sangatlah besar. Hal ini tentunya menjadi suatu sumber yang potensial bagi Negara ini jika para pemuda itu memiliki kualitas yang mumpuni dalam berbagai bidang. Zaman telah mengglobal dimana sekat informasi dan ilmu pengetahuan tak lagi terbatas oleh ruang dan waktu, persoalan tentunya terletak pada kemauan, tekad serta kerja keras dari para pemuda itu sendiri untuk mau menempa dan mengisi diri dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bidang yang diminati. Bukan zamannya lagi para pemuda berpikir kedaerahan (primodial) mengandalkan isyu dan semangat identitas, bak pepatah seperti katak dalam tempurung.  Berpikir global bertindak lokal adalah upaya terbaik untuk memulai memberikan kontribusi yang berarti bagi daerah.

Negara dalam hal ini Pemerintah pusat dan Pemerintah Daerah (Pemda) tentunya memiliki peran besar dalam mendorong dan memfasilitasi para pemuda menjadi sumber daya kreatif dan produktif sesuai dengan bakat dan kebutuhan daerah masing-masing. Untuk itu strategi dan program aksi nyata dalam menyikapi bonus demografi menjadi kekuatan ekonomi yang mendunia.  Jika tidak, maka bonus demografi itu jadi boomerang yang berujung pada tingginya angka pengangguran yang pastinya akan mendorong konflik sosial menjadi instabilitas.

Di era kekinian dimana pasar dunia terbuka lebar dengan informasi  yang terakses cepat secara global, Negara dan Daerah membutuhkan para kawula muda yang memiliki semangat inovatif dan kreatif yang mampu menciptakan peluang-peluang baru bagi kemajuan ekonomi daerah masing-masing. Dahulu para pemuda bersatu untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan kini saatnya para pemuda bangkit berjuang mewujudkan Indonesia maju, khususnya daerah. Selamat Hari Sumpah Pemuda (L. Sahat Tinambunan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *