Akhirnya Jokowi Akomodir Putra Borneo Di Kabinetnya, Kali Pertama Putra Dayak Duduk Dijajaran Kabinet NKRI

Kabinet “Indonesia Maju” itulah nama yang diberikan oleh Presiden kepada para  menteri  yang menjadi team worknya untuk membantunya bekerja menjalankan visi misi  5 tahun ke depan .  Ada 38 nama yang disebut dan diperkenalkan kepada publik yang disiarkan secara live oleh media televisi, Selasa (23/10/2019) lalu, 34 menteri dan 4 pejabat setingkat menteri. Beberapa diantaranya adalah wajah lama, lainnya wajah baru dengan berbagai latar, baik  professional,  purnawirawan Jenderal, tentunya tak ketinggalan dari partai politik. Bahkan yang yang sangat kontroversial adalah masuknya dedengkot partai Gerindra yang juga rival Capres  yang lalu, yaitu Prabowo ke jajaran kabinet Jokowi – Maaruf, sebagai  Menteri Pertahanan. Tak pelak dunia maya sontak heboh dan viral diperbincangkan, demikian pula dengan kementerian agama yang dikomandani oleh mantan tentara, Jenderal  (Pur) Fachrul Razi , serta Kementerian pendidikan yang diisi oleh anak muda sukses sebaga CEO Gojek, Nadiem Makarim.

Sebagai pemenang Pilpres untuk ke dua kalinya, langkah presiden memilih para menterinya untuk mewujudkan visi misinya menuju Indonesia yang lebih maju, pastilah telah diperhitungkan dengan pertimbangan yang matang. Ia tak hanya merangkul para pendukungnya partai koalisi dengan memberi jatah menteri yang lebih, tetapi ia juga merangkul musuhnya, masuknya Gerindra dengan 2 kursi menteri. Strategi perang  Cina kuno telah dimainkan oleh jokowi. Demikian pula dengan pilihan-pilihan menteri lainnya, pastinya telah diperhitungkan dengan matang, bak langkah bidak catur yang berpikir jauh ke depan. Termasuklah mengorbankan menteri terbaik “Susi Pujiastuti” yang lekat dihati rakyat.

Langkah Jokowi tak berhenti direkrutmen Menteri saja, jelang beberapa hari berikutnya, Kamis (25/10/2019)  Jokowi kembali memanggil 12 nama dari berbagai latar untuk dijadikan wakil menteri. Terlihat upaya dari Jokowi untuk meredam isyu ketidakpuasan dari berbagai kalangan atas penunjukkan personal maupun karena tak terakomodir sebagai menteri. Sebutlah Kementerian Keagaaman yang sedikit riuh karena kurang diterimanya menteri yang ditunjuk oleh kalangan NU, lantas presidenpun mengangkat wakil menteri yang familiar dikalangan Nahdiyin yaitu Zainut Tahuhid Sa’adi. Demikian pula di Kemenhan yang dikomandani Prabowo juga dipasang tandemnya atau Wamen yaitu Wahyu Sakti Trenggono. Dikalangan relawan pendukung setia Jokowi, relawan Projo, ketuanya dijatahi wakil menteri perdesaan, bahkan partai pendukung koalisi yang tak terwakili di DPR  Pelindo dan PSI pun mendapat jatah wakil menteri. Suku serta perwakilan daerahpun diakomodir oleh Jokowi dikabinetnya, seperti Papua dan Kalimantan (Borneo).

Diakomodirnya putra Borneo di kabinet Jokowi kali ini, tentunya menjadi catatan yang menarik bagi penulis, karena 5 tahun yang lalu dekade pertama kabinet Jokowi, penulis membuat artikel dengan judul “Borneo Tanpa Menteri” . Baca juga :  Borneo Tanpa Menteri (Refleksi Dekade 1 Pemerintahan Jokowi-JK)        Sebagai pulau terbesar dengan SDA  yang melimpah dan lama menjadi objek penderita  karena berbagai sumber daya alam  telah habis tergerus, rasanya sangatlah pantas bila putra-putri Borneo ikut andil dalam pemerintahan pusat. Dan sepertinya ini adalah kali pertama dalam sejarah NKRI Putra Borneo dari Suku Dayak masuk dalam jajaran kabinet, meskipun kali ini hanya sebatas wakil menteri.

Kabinet kali ini memang sangatlah gemuk, namun untuk Indonesia yang memiliki cakupan wilayah yang luas, dengan berbagai ragam suku, budaya dan agama. Serta lebih mendominankan politik kedaerahan dan politik identitas (Suku, Agama, daerah asal). Rasanya pilihan Jokowi membentuk kabinet dengan merekrut berbagai kalangan dan menjadikan Kabinet yang Bhineka rasanya sangatlah tepat. Setidaknya riak gerombang protes suara sumbang karena merasa di anak tirikan tak lagi terdengar. Dan Presiden bersama pembantunya yang “ Bhineka” itu dapat menjalankan visi misinya menuju Indonesia Maju dan lebih baik guna mengejar ketertinggalan; “Selamat Bekerja Presiden!!” (L. Sahat Tinambunan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *