Lagi Korban Kawin Dengan WNA Teraniaya Di Negeri CIna

Majalahmataborneonews.com, Ngabang – Meri Andani warga  kabupaten Landak harus merasakan nasib tragis dan penganiayaan dari pasangan hidupnya di Negara asing, sempat melarikan diri dan diamankan oleh KBRI, namun kembali lagi ke suaminya setelah dijanjikan akan diurus dengan baik dan diceraikan dengan baik-baik, namun penyelesaian yang baik tak kunjung didapat, justru saat ini ia terlunta dan hidup di kos-an dengan kondisi yang memprihatinkan, kekurangan makan.  Demikain penuturan,, Mahadir aktivis Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), di kantor mata borneo,  Jum’at (19/04/2019).

Cerita Meri  Andani adalah cerita klise yang berulang dari waktu ke waktu, tentang anak manusia yang bermimpi hidup enak  bangkit dari keterpurukan dan kemiskinan. Mimpi Meri berawal dari adanya informasi bahwa ada orang  asing  (WNA Tiongkok, red) yang  mencari wanita untuk dijadikan istri dengan mahar Rp. 20 juta.  Singkat cerita Meri pun bertunangan dengan si Lelaki asing dan mendapatkan dana Rp. 16 juta, sedangkan Rp. 4 juta diambil oleh mak comblangnya, setelah mengurus tetek bengek  seperti Paspor dan administrasi lainnya, Ia pun diboyong ke Negeri Tirai Bambu didampingi oleh sang Ayah kandung Meri sendiri,  tertanggal 17 Oktober 2018 lalu (Kronologis  kejadian pernikahan yang dibuat  kakak kandung korban, Jeliana yang disampaikan kepada DPC SBMI bersama surat kuasa untuk mendampingi korban).

Di Tiongkok, Meri tak hanya sebagai istri tetapi juga dipekerjakan oleh si suami disebuah pabrik kaca dengan gaji Rp. 4 Juta (dikurskan) dan upahnya diambil oleh si suami untuk membayar hutangnya. Tak hanya dipekerjakan, tetapi Meri juga mendapat penganiayaan dan pelecehan sexsual oleh mertuanya. Sehingga akhirnya Meri sempat melarikan diri dan oleh polisi setempat diarahkan ke KBRI, sempat ditampung KBRI, kembali lagi ke suaminya setelah dibujuk rayu. Namun kondisi tak berubah, hingga melalui medsos facebook dan whatshapp Ia bisa berhubungan dengan keluarganya di Ngabang kabupaten Landak dan meminta untuk dipulangkan.  Pihak keluarga telah berinisiatif menghubungi mak comblang  untuk memulangkan Meri, namun mak comblang meminta ganti rugi Rp. 50 juta. Sehingga akhirnya pihak keluarga mendapat informasi untuk menghubungi SBMI, organisasi yang memang konsen mengurusi masalah buruh migrant dan trafficking ini.

Menurut Mahadir, ketua DPC SBMI, persoalan seperti Meri ini telah sering terjadi dan menimpa banyak warga, untuk itu Ia berharap agar pihak terkait dan berwenang agar dapat memberikan tindakan preventif agar kejadian yang sama tidak terulang. “ Kasus-kasus kawin dengan warga asing dulunya ngetrend di amoy-amoy Singkawang, mungkin di sana sudah tidak ada mangsa, maka pencarian untuk dijadikan istri oleh pria Tiongkok beralih ke daerah-daerah lainnya, salah satunya ya kabupaten Landak ini dengan iming-iming mahar dan kehidupan yang nyaman” ujarnya.

“Kita sangat berharap agar pemerintah daerah dan aparat penegak hukum  proaktif untuk melakukan tindakan pencegahan, baik  memotoring  dan menindak para mak comblang atau agen yang biasanya mencari ke kampung-kampung. Serta adanya upaya pemberian informasi kepada warga khususnya remaja wanita yang menjadi objek dari perkawinan ini tentang bahaya dan efek negative dari perkawinan semacam ini” pungkas Mahadir. (Sahat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *