OpiniUncategorized

BELAJAR MENJADI INDONESIA

BELAJAR MENJADI INDONESIA

Sisa sentimen yang dikibarkan Orde Baru soal Ke-Indonesiaan warga Tionghoa Indonesia masih terasa hingga saat ini. Tidak sevulgar dulu, tapi masih dan tersimpan, sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang belum sembuh dan tak berusaha menyembuhkan dirinya. Anda bisa lihat bagaimana orang-orang yang mengaku Pribumi di beberapa kota di Sumatera, Jawa dan Kalimantan dan lainnya.

Ada uyon-uyon yang saya dengar saat remaja di kampus Universitas besar di Pontianak. Bagi perokok yang tak bisa merokok sehabis makan (karena tak ada rokok atau larangan); “Same jak kayak kenak tampar Cine tak melawan” . Rasis, jahat dan tak adil.

Liem Swie King bisa jadi  sama sekali tak peduli dirinya Tionghoa ketika bertarung habis-habisan melawan Han Jian atau Luan Jin, atau Morten Frost Hansen di Piala Thomas di olah raga bulutangkis yang berkali-kali mengharumkan nama Indonesia. King, hanya satu dari sekian banyak atlit keturunan Tionghoa yang menghabiskan masa mudanya untuk membela Negara ini, dan mengumandangkan Indonesia Raya di level tertinggi olah raga dunia. King bertarung sebagai Indonesia sebenarnya dan suporter gila Indonesia meneriakan namanya : King, Liem Swie King. King adalah satu dari sedikit orang Tionghoa yang memilih tak mengubah namanya (menjadi:pribumi) ketika Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Soeharto No 14 tahun 1967 yang mengatur seluruh peri kehidupan dan eksistensi masyarakat Tionghoa Indonesia. Prestasinya di bidang olahraga memberinya nilai tawar dan kesempatan itu, tapi tidak dengan warga Tionghoa kebanyakan.

Kita terbelalak betapa superiornya Tiongkok sebagai sebuah kekuatan pembinaan Olahraga di Asian Games 18 di Jakarta Palembang. Negara yang bangsanya dianggap sampah di Indonesia dan selalu menjadi sasaran kemarahan kolektif dan politis. Kita (baca:Indonesia) bukan lawan sebanding untuk prestasi dan etos kerja Negara itu, bangsa itu, setidaknya saat ini.

Diusia 6-7 tahun Negara sudah mengintip bakat dan mentalitas olahraga di setiap sekolah yang kurikulumnya sudah mapan dan mengalami perubahan hanya untuk perbaikan, bukan karena politik, apalagi ; AGAMA. Atlit-atlit muda itu diminta dengan surat resmi dari Negara, dilepas orang tua dan dipelihara dalam sasana, perguruan, padepokan, yang melatih mereka dengan disiplin,  semangat dan rasa cinta tanah air dan Patriotisme luar biasa. Dipertandingkan dengan kompetisi ketat didalam negeri, berujicoba dengan level Olympiade. Hanya akan mewakili Negara jika mereka berhasil mencapai level dunia.

Itu mengapa sampai hari ke 11 Asian Games (sampai tulisan ini dibuat) China/Tiongkok sudah meraih 102 Emas, 67 Perak, 50 Perunggu. Bandingkan dengan Indonesia, yang sudah sangat begitu bangga pertama kali mampu meraih 30 medali Emas sepanjang partisipasinya dalam multievent ini. Kita masih sibuk dengan konflik internal dan belum menemukan formula terbaik.

Saya bangga terhadap apa yang dicapai Indonesia di Asian Games, namun sekaligus miris melihat banyak manusia Indonesia yang memelihara Rasisme, memproduksi bahkan mewariskannya. Sekian lama Negara bangsa-bangsa ini hidup dalam dendam yang dipelihara, dan sampai saat ini kita tak mampu menjawab persoalan ini dengan mudah. Sampai akhirnya ditampar realitas

Sederet nama figure dan tokoh Tionghoa sudah menjadi bagian dari sejarah perjuangan, sejarah eksistensi dan sejarah tegaknya nama Indonesia, namun kita masih tetap harus bertanya, sudah cukupkah? Atau sampai kapan?

Menjadi Tionghoa (saat ini) berarti menjadi minoritas yang selalu harus waspada. Di Indonesia, Tionghoa sadar bahwa mereka harus terus-menerus menyesuaikan serta membaurkan kebudayaan mereka dengan budaya tempatan. Mereka terus menerus berada dalam proses “menjadi” dari “yang lama” ke “yang baru” bernama Indonesia.

Kita Indonesia. Darimana dan mewakili lahiriah bangsa apapun. Sentimen etnik dan stereotype bisa saja selalu hidup diantara kita, namun taka da yang bisa memilih anda lahir sebagai apa dan darimana. Jayalah Indonesia, bangsa besar dan kaya, berbudi pekerti baik. Semangat Kerja dalam persaudaraan sebangsa.

Iwan Djola, 30 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *