DESALAH MASA DEPAN KITA

C O R N E L I S

Suka atau tidak, Drs.Cornelis.MH adalah fenomena,  Gubernur incumbent yang sebentar lagi lengser ini adalah sosok yang tak diperkirakan oleh elite politik lokal (saat itu) melesat dan berhasil tampil sebagai orang nomor satu di Kalimantan Barat. Kemunculannya di waktu yang hingar bingar setelah reformasi 1998 seolah membunuh ketakutan-ketakutan masyarakat sipil untuk bersuara lantang menyerukan pendapatnya dalam sebuah Pilkada langsung yang penuh dinamika pada periode pertama ia terpilih.

Cornelis berpasangan dengan Christiandy Sanjaya yang diusung PDI Perjuangan unggul dengan raihan 930.679 suara. (http://kalbarkpu.blogspot.co.id/) atau 43,67 persen suara mengalahkan kontestan lain saat itu H Oesman Sapta – Drs Ignatius Lyong, HM Akil Mochtar, SH, MH – Drs AR Mecer, termasuk mempecundangi pasangan Incumbent saat itu Usman Djafar-LH Kadir yang hanya meraih 659.279 suara pada Pilkada periode 2008-2013.

Kemenangan ini terulang pada Pilkada periode 2013 -2018 dengan prosentase  yang lebih telak 52,13 persen atau 1.225.185 suara pemilih sah di Pilgub Kalbar. Angka tersebut jauh di atas raihan pasangan lainnya, Armyn Alianyang-Fathan A Rasyid yang mendapat 361.744 suara. Sedangkan pasangan Morkes Effendi-Burhanuddin A Rasyid 591.081 suara pemilih dan pasangan Abang Tambul Husein-Barnabas Simin 172.016 suara pemilih. ( https://news.detik.com/berita/857975/cornelis-akan-ditetapkan-sebagai-pemenang-pilkada-kalbar )

Awal tahun 2018 ini sosok politisi dan birokrat yang lugas ini harus turun panggung,menyerahkan tampuk pimpinan Provinsi Kalimantan Barat kepada generasi penerusnya.

Banyak sekali karya beliau bagi Kalimantan Barat yang ia cintai, terutama dalam bidang Pendidikan, infrastrutktur dan stabilitas keamanan dan relasi antar kelompok. Saya memang tak menuliskannya dalam bentuk angka apalagi untuk show keberhasilan. Opini singkat ini memang bukan untuk memuja, namun merefleksikan semampunya. Karena sebagai pemimpin tentu saja ada pula yang tak merasa dipuaskan. Namun memang tak akan ada pemimpin yang bisa secara total memuaskan seluruh konstituen dan masyarakatnya.

Sebagai seorang yang terlahir sebagai Dayak, banyak pihak yang menuding Cornelis sebagai Sektarian fundamentalis. Saya kurang sependapat. Sebab dia tak akan bisa menghindar dari takdirnya sebagai putra Dayak yang dalam proses menjadi dewasanya banyak mengalami benturan dan persepsi bagaimana “Dayak” dimata kelompok lain dan hegemoni yang terpelihara menjadi image masyarakat Dayak selama puluhan tahun.

Ia lahir pada 27 Juli 1953, ketika nuansa politik Indonesia bergejolak. Lalu tumbuh ketika posisi politis orang Dayak mengalami kemunduran dalam berbagai hal, terutama ketika Orde Baru berkuasa. Ia adalah saksi sejarah bagaimana kaumnya tak memiliki celah untuk menjadi pemimpin didaerahnya sendiri oleh kokohnya rezim dan juga sentiment suku dan agama yang pernah dijadikan penanda layak atau tak layaknya seseorang menjadi pemimpin.

Cornelis berani mendobrak kebekuan itu dengan mencalonkan diri sebagai Bupati Kabupaten Pontianak, dalam posisinya masih sebagai seorang Camat, ini tak lazim. Namun mentalitas itu menyerukan sebuah kepercayaan diri dan ketokohan yang tak dibuat-buat. Beliau adalah sosok pemipin alamiah.

Bagi saya Syarat sebagai pemimpin ada pada sosok Cornelis, terutama keberpihakannya pada kemajuan Kalimantan Barat. Sebagai figur, ia sudah melalui hampir seluruh proses merangkak hingga sampai pada tampuk jabatannya memimpin daerah. Sebagai Birokrat ia komplit dan kompeten. Kelugasan dan keberanian beliau dalam berkomunikasi menunjukan bahwa sesungguhnya sebagai tokoh publik Cornelis sangat terbuka untuk sebuah diskusi dan dialog. Ia berani berbenturan dengan apa saja dengan siapa saja. Walau kadang terkesan tanpa rem dalam berorasi, namun sesungguhnya itu salah satu sisi estetis seorang Cornelis, selain sisi logis dan etis yang ia kemas dalam sebuah dramaturgi panggung politik yang apik.

Dalam sebuah kesempatan dialog langsung dengan beliau, ia menyatakan: “setelah ini saya akan istirahat dulu, walau demikian saya tetap masih birokrat, masih ada yang belum mampu saya selesaikan tapi biarlah generasi berikut meneruskannya”. Intonasinya tetap penuh percaya diri dengan artikulasi yang jelas dan tegas. Saya mencoba melihat lebih jauh kedalam, tetap saja yang terbersit adalah tak ada keraguan, mirip seperti slogannya yang terkenal : Kalau berani jangan takut-takut, kalau takut jangan berani-berani!

Politik adalah pula permainan-permainan, jika harus ada yang kalah, demikian pula harus ada pemenang. Sejauh ini, image Kalimantan Barat yang penuh dinamika kisah anarkisme, jinak ditangan pemimpin ini. Dalam ritual kemenangannya yang gemilang, ia mampu memisahkan tetapi tidak meniadakan, sehingga kemenangan itu terasa lembut oleh keberanian melakukan rekonsiliasi. Sekeras apapun anda mencoba mencari kelemahannya, waktu sudah membuktikan bahwa sepuluh tahun terakhir Kalimantan Barat melaju dengan aman, ia mampu berdiri atas nama seluruh kalangan.

Kalimantan Barat akan maju bersinar ketika seluruh elemen masyarakatnya mampu bersinergi sebagai sebuah kekuatan bersama.

Selamat purna tugas pak Cornelis.

 

Iwan Djola

1 September 2018

DESALAH MASA DEPAN KITA

Banyak fenomena sosial mengiris kesadaran kita soal desa, lagi-lagi desa. tempat segala sesuatu mengenai harapan dan mimpi soal kemajuan dimulai, dipupuk dan disemai,bahkan ditanam. Mirip seperti system zonasi dalam memilih sekolah saat ini, pemerintah Jokowi sedang berteriak keras agar desa jangan ditinggalkan, diberdayakan kembali setelah lama hanya menjadi objek penderita sebuah kata sakti : Pembangunan.

Adalah satu titik dalam NAWACITA :  “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa.” Salah satu agenda besarnya adalah mengawal implementasi UU No 6/2014 tentang Desa secara sistematis, konsisten dan berkelanjutan dengan fasilitasi, supervisi dan pendampingan. Pendampingan desa itu bukan hanya sekedar menjalankan amanat UU Desa, tetapi juga modalitas penting untuk mengawal perubahan desa untuk mewujudkan desa yang mandiri dan inovatif.

Sama sekali belum terlambat, atau lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Pemerintah mendorong pemberdayaan teknis Badan Usaha Milik Desa, dan berharap subjektifitas pemahaman tersebut menjadi modal dan arus besar perubahan gerakan ekonomi bangsa.

Presiden kurus itu sedang berusaha kembali berdialog dengan masa lalu Nusantara yang Gemah Ripah Loh Jinawi, bangsa besar dan Negara agraris terkemuka, untuk dapat melakukan tawar menawar dengan masa kini. Sebuah usaha yang tak mudah dan memerlukan kesadaran dan mentalitas. Yang mempesona adalah; semua ini dimulai lagi dari desa. Ruang rembug yang lama ditinggalkan dan hanya menjadi alas, dan menjadi sasaran umbar janji-janji politik yang tak pernah selesai realisasinya.

Badan Usaha Milik Desa adalah spirit, semangat baru dan usaha yang memerlukan kerja keras dan kontinuitas dalam merubah wajah Indonesia sebagai penghasil tenaga kerja murah di ASEAN dan dunia. Menggerakan masyarakat yang berdomisili di desa  tentulah tak mudah seperti cita-cita Soekarno, terlebih Hatta. Tatanan yang ada sudah terlanjur berpuluh tahun tersekat dan diabaikan sehingga memerlukan penyegaran, pendampingan dalam mengelola danadan kerja besar. Kegiatan pendampingan membentang mulai dari pengembangan kapasitas pemerintahan, mengorganisir dan membangun kesadaran kritis warga masyarakat, memperkuat organisasi-organisasi warga, memfasilitasi pembangunan partisipatif, memfasilitasi serta memperkuat musyawarah desa sebagai arena demokrasi dan akuntabilitas lokal, merajut jejaring dan kerjasama desa, hingga mengisi ruang-ruang kosong di antara pemerintah dan masyarakat. Intinya pendampingan desa ini adalah dalam rangka menciptakan suatu frekuensi dan alur yang sama antara pendamping dengan yang didampingi, pemerintah dengan masyarakatnya.

Peluit sudah dibunyikan, perhelatan dimulai. Masyarakat Desa sebagai struktur dasar dalam sistem pemerintahan kini diajak bertransformasi menjadi kelompok masyarakat sadar dan mengenal potensi-potensinya untuk bergerak bersama membangun dirinya, komunitasnya, dan membangun harga diri bangsa.

Seperti berkali-kali Ia sampaikan Indonesia itu Negara besar, harus dikelola dengan jiwa dan cita-cita yang besar. Sambil melakukan sebuah ujian besar pada seluruh elemen : Terutama ketika berhadapan dengan sejumlah dana yang menggiurkan. Revolusi Mental.

Entah bagaimana caranya, Desalah masa depan kita

Keyakinan ini datang begitu saja, Karena aku tak mau celaka. (Lagu Desa. Iwan Fals)

Iwan Djola, 20 Juli 2018

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *