Fenomena Etnis Cina Dalam Kebhinekaan

Jauh sebelum Republik ini berdiri, komunitas sukubangsa Cina telah melalangbuana diseantero Nusantara ini ratusan tahun silam dan telah beranak pinak hingga ratusan generasi. Bahkan  Kerajaan Islam yang pertama di Nusantara  adalah orang Cina yang begelar Raden Patah dengan nama sebenarnya Senopati Jin Bun (Husodo, 1985 : 62 , Warga Baru – Kasus Cina Di Indonesia). Sejarah  mencatat  hal itu. Perjalanan Pra Kemerdekaan hingga berdirinya Republik inipun tak lepas dari andil warga keturunan ini. Mereka muncul dan tampil berprestasi mengatasnamakan dan mengharumkan Negara Indonesia. Tak hanya berprestasi dibidang Olah Raga saja, hampir disemua lini dan bidang kehidupan bermasyarakat selalu menonjol  baik  sebagai  Pebisnis, Politikus, Pejuang Hak Asasi dan sebagainya ada begitu banyak tokoh dari setiap zaman. Jangan tanya tentang perekonomian, karena bisnis hampir semua lini dikuasai warga keturunan ini. Tentunya merekalah yang paling besar bayar pajaknya. Pastinya roda perekonomian  ada ditangan orang-orang ini.  Begitu pentingnya sukubangsa Cina bagi keberlangsungan Republik ini.

Meskipun telah hidup ratusan generasi di bumi Pertiwi dan berprestasi, tetap saja masyarakat pribumi disadari atau tidak mengganggap sukubangsa Cina ini berbeda dan asing. Sehingga diskriminasi kerap terjadi khususnya dalam perpolitikan kekuasaan (Kasus Ahok).  Pasca reformasi memang telah mencabut berbagai aturan yang mendiskriminasi seperti SKBRI, pengakuan Negara terhadap Agama Kong Hu Cu dan diperbolehkan tampilnya budaya-budaya khas yang masa ORBA dilarang seperti Barongsai. Namun Cina tetaplah Cina dimata sebagian masyarakat Pribumi Indonesia.  Ketidaksenangan sebagian pribumi terhadap Etnis Cina  ini lebih dikarenakan ketidakmauan mayoritas peranakan Cina ini membaur dan bersosialisasi dengan warga. Cenderung Exsklusif dan mengelompok menciptakan komunitas sendiri sehingga muncul istilah Pecinan, Kampung Cina di Kabupaten Sanggau, Kota Amoy Singkawang -Kal-Bar. Exsclusifnya warga keturunan Cina ini menurut Suparlan, dikarenakan mereka mengganggap derajatnya lebih tinggi dari warga local.  “Namun di pihak lain, mereka tidak mau disederajatkan secara social dan budaya dengan sukubangsa-sukubangsa di Indonesa. Mereka menuntut diperlakukan sebagai orang asing yang terhormat yang lebih tinggi daripada orang Indonesia lainnya, yaitu sebagai orang dari Pusat Kerajaan atau Tionghoa. Tionghoa berarti orang dari Kerajaan Tengah atau Pusat Kerajaan (Antropologi Indonesia 71, 2003 : 32)  

Di Kalimantan Barat pun tidaklah terlalu jauh berbeda interaksi-relasi  antara Etnis Cina – Pribumi tersebut, meskipun menurut Sosiolog Universitas Tanjungpura, Prof Syarif Algadrie dalam Makalahnya “Komunitas Cina Di Kalimantan Barat”  bahwa Komunitas Cina di Kal-bar khas dan unik berbeda dengan didaerah-daerah lainnya di Indonesia. Dengan indikatornya   diantaranya berkembangnya budaya dan tradisi mereka yang berbentuk baik fisik material,  berdiri dan berkembang tempat-tempat ibadah (Tepekong), tradisi dan upacara penguburan yang khas, dan tradisi permainan Barongsai dan Naga, maupun non fisik berupa kecendrungan kawin campur yang seimbang dengan penduduk setempat. Strata social sama dengan penduduk lokal ada yang miskin, menengah dan Kaya. Dimana semua kebiasaan dan tradisi Etnis Cina tersebut diterima dengan sangat baik oleh penduduk setempat, indicator-indikator tersebutlah menurut Prof. Syarif sebagai kekhasan dan keunikan di Kalimantan Barat.  Selanjutnya dalam makalah yang sama, Prof. Syarif juga mengungkapkan bahwa komunitas Cina bersama Melayu dan Dayak adalah “Tiga Pilar Kehidupan” di Kalimantan              Barat, serta mengungkapkan bahwa Etnis Tionghoa adalah Putera Daerah (bumi putera), didasarkan pada kriteria kelahiran dan lamanya berada di daerah ini selama satu generasi, minimal 25 tahun, dan ini berlaku untuk semua Etnis.  Tentunya  salah satu pilar yang dimaksud adalah sebagai penopang perekonomian Kal-bar, karena bagaimanapun Etnis Cina keturunan inilah aktor  dan elite utama  penggerak bisnis  di Kal-bar, dari pemasok utama, distribusi hingga agen  eceran di daerah-daerah, tentunya juga sebagai pengusaha kontruksi karena adanya relasi “khusus” dengan Pengusaha. Selain dunia Bisnis, Legislatif  dan Eksekutif (Kepala Daerah) pun telah mulai diwarnai oleh Etnis keturunan Cina ini.  Kal-bar memang pluralistic dan Bhineka Tunggal Ika. By : Sahat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *