Uncategorized

Sawit Anjlok, Bodoh Siapa Diangkut?!

Didatangkan oleh  Eks Penjajah Hindia  Belanda tahun 1848 dari Afrika Barat sebagai tanaman penghias jalanan   di Kebun Raya Bogor dan Deli kala itu, lalu mulai dibudidayakan secara komersial di tahun 1911. Kelapa sawit (Elaeis) kini telah mendominasi dan mengubah kawasan hutan kaya flora-fauna  menjadi hutan homogen, tak terkecuali pulau Kalimantan, sejauh mata memandang yang terlihat adalah hamparan hutan sawit. Sepertinya lebih mudah menemukan hutan sawit  ketimbang hutan yang sesungguhnya, jangan pernah berharap dengan mudah menemukan flora-fauna asli Borneo, habitatnya telah tercabik.  Keluarnya UU tentang Pengakuan Hutan Adat oleh Negara, sedikit mengurangi laju deforestasi.  Namun  apa mau dikata, Sawit benar-benar berkuasa dan Menjajah, betapa tidak, selain rakus air dan lahan; karena hampir tak ada tanaman produktif  lain yang bisa hidup berdampingan dengannya,  juga membutuhkan areal lahan yang luas. Sawit juga kini telah menjadi  Dewa  bagi maju – mundurnya, sejahtera –tidaknya suatu daerah dan masyarakat.  Sawit menjadi ikon dan andalan untuk memajukan dan mensejahterahkan masyarakat suatu daerah, bahkan penyumbang devisa terbesar setelah MIGAS yang kini mulai meredup masa kejayaannya seperti Kayu Log dimasa lalu.

Dibalik keagungan komoditas Sawit ini dalam soal meningkatkan income, Sawit juga menyimpan cerita busuk yang tak sedap, tidak hanya soal cerita rusak dan hilangnya kawasan hutan heterogen beserta habitat flora-faunanya, tetapi juga bergesernya nilai-nilai tatanan sosial masyrakat adat. Bahkan memunculkan konflik social yang beragam variansnya; antara masyarakat yang pro dan kontra, masyarakat asli dengan warga pendatang, masyarakat dengan Koorporat (perusahaan), masyarakat dengan Pemerintah Daerah, masyarakat dengan aparat keamanan, dan lain sebagainya.   Sebuah ironi dibalik pertumbuhan ekonomi yang mengandalkan komoditas ini.

Saking primadonanya Sawit ini, komoditas lainnya yang dulunya pernah menjadi penyangga perekonomian daerah dan sandaran hidup bagi masyarakat terlupakan dan tersingkirkan, sebutlah Karet,  Kelapa, Kakao, Kopi, Lada/Sahang,. Bahkan buah-buah local yang menjadi penanda indentitas local tak segan disingkirkan digantikan tanaman Sawit, hanya sedikit yang tersisa, seperti buah Tengkawang (maskot Kal-Bar), dan lainnya, sebutlah buah Paluntan, Buah Mantawa dan sebagainya. Sawit secara perlahan namun pasti telah mewarnai  dan menjadi bagian dari kehidupan social-ekonomi  masyarakat, khususnya di pulau Borneo. Terlepas dari berbagai dampak negative yang ditimbulkan dan dirasakan masyarakat saat ini,  Sawit tetap menjadi andalan utama untuk meningkatkan income daerah dan devisa Negara serta kesejahteraan masyarakat. Ibarat dua sisi mata uang, disayang juga dibenci.  Apa mau dikata, saat ini masyarakat kita hidup dan berinteraksi  dari hutan-hutan sawit itu. Mungkin yang bisa dilakukan saat ini hanyalah menjaga keberlanjutannya agar tetap terus berproduksi seraya  mengembangkan industry hilirnya untuk meningkatkan nilai tambahnya. Mengecilkan dampak negative yang ditimbulkan seperti mengurangi atau meminimalisir konflik social, meniadakan kerusakan hutan dan lingkungan dengan cara menstop ekspansi lahan baru. Siaga  dan cegah terhadap kebakaran lahan dan hutan,  karena hutan sawit rentan terbakar.

Masih ada waktu untuk berbenah dan memperbaiki situasi keterlanjuran, ketergantungan serta harapan yang tinggi pada komoditas yang dibawa eks penjajah ini. Campur tangan Pemerintah, politisi sebagai penentu arah kebijakan di negeri ini tentunya dinantikan gebrakannya. Bagaimanapun seperti kata pepatah ; jangan pernah menyimpan telur hanya di satu keranjang – jangan pernah hanya mengandalkan satu investasi saja, karena hukum pasar adalah keniscayaan. Semakin besar jumlah yang ditawarkan maka harga akan menurun, demikian pula halnya komoditas Sawit ini. Nun di benua Afrika, tempat asal si Sawit berasal, juga sedang berpacu membudidaya komoditas  ini. Sudah waktunya mengembangkan komoditas unggulan pertanian lainnya yang juga berkelas ekspor, tentunya dengan tetap menjaga keberlanjutan dan meningkatkan nilai tambah di industry hilir  Sawit, tanpa harus ekspansi lahan baru  (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *