Cerita Dari Desa

Desa Sekais Selenggarakan Maka Dio Wujud Pelestarian Budaya Leluhur

Sekais – Mata Borneo, -“ Saya bangga serta berbahagia berkesempatan menghadiri sekaligus membuka perhelatan acara Maka Dio di desa Sekais ini, melalui kegiatan seperti  ini membuktikan bahwa kita sebagai generasi penerus tidak akan pernah melupakan adat istiadat dan budaya yang diwariskan oleh leluhur kita” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Landak, Herculanus Heriadi, SE. Ketika memberi  kata sambutan  sekaligus membuka rangkaian kegiatan Mako Dio, Kamis (03/05) lalu yang juga dihadiri oleh  Anggota DPRD Landak, Bapak Anjiu, Camat Jelimpo, pengurus DAD Kabupaten dan kecamatan, Timanggong serta beberapa  tamu undangan.

Kepala desa Sekais, Doan, menuturkan bahwa acara Mako Dio ini merupakan perhelatan yang pertama kalinya diadakan di desanya yang dirayakan secara meriah, selain perhelatan upacara adat  serta pesta jamuan dari setiap rumah tangga yang merupakan rutinitas sedari dulu. Maka pada tahun ini ditambah dengan kegiatan perlombaan yang berciri khas daerahnya, baik seni, permainan olah raga, maupun rutinitas keseharian yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya, khususnya di desa Sekais.  “Kali ini memang kita buat agak meriah dengan menampilkan seni budaya berkhaskan suku kita Dayak, sengaja kita undang sanggar  Borneo, selain untuk menghimbur warga kita, juga untuk mengingatkan dan melestarikan budaya leluhur. Karena itu selain ritual adat dan pesta sederhana disetiap rumah warga, maka tahun ini kita juga rayakan dengan berbagai perlombaan yang bercirikan budaya kita, seperti lomba Mengayam yang merupakan keseharian dari kaum wanita tua kami. Dengan adanya lomba mengayam ini kita harapkan agar yang muda jadi tergugah dan mau belajar mengayam, karena berbagai ayaman dari bambu dan rotan ini memiliki nilai ekonomi yang baik jika dapat dikembangkan, tentunya ini merupakan alternativ pendapatan warga selain mengandalkan kebun dan tani” ujar Doan didampingi ketua panitia acara Ulim Tinus.

Selain lomba mengayam, juga ada lomba ketangkasan seperti Pangka Gasing, kreasi seni Tabuh gendang, Meraut Pabayo, Ukir Topeng Kayu, menumbuk padi serta rangkaian ritual adat Ngantat Penompo.  Maka Dio merupakan ungkapan rasa syukur kepada Jubata atau Tuhan yang telah memberikan rejeki dari hasil panen raya padi yang melimpah dan memohon kepada Jubata diberi kesehatan dan rezeki setiap tahunnya secara turun temurun sejak zaman nenek moyang dahulu. Mako Dio itu bahasa kami Benyadu, didaerah lainnya familiar dengan sebutan Gawai atau Naik Dango, ungkap Doan.

Perhelatan Maka Dio, merupakan acara yang dinantikan oleh warga setiap tahunnya, tak mengherankan bila pada tahun ini warga antusias menyaksikan dan mengikuti  rangkaian kegiatan selama tiga hari berturut-turut tersebut, serta berharap agar acara Maka Dio di tahun depan dapat semeriah tahun ini. (Amat Dasa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *