Wisata Sejarah : Mandor Kota Kecil Nan Sarat Sejarah Saksi Bisu Pembantaian Dai Nippon Jepang Hingga Keberadaan Republik Lan Fang

Mandor saat ini hanyalah sebuah kota  kecamatan di wilayah kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Berjarak  89 Km dari ibu kota kabupaten, serta hanya 88 Km dari atau menuju  Pontianak ibu kota provinsi  dengan akses jalan internasional karena menuju arah ke Negara tetangga Malaysia.  Di sepanjang pasar kota kecamatan berdiri deretan ruko-ruko lama ala Tionghoa,  sunyi  memang dan jauh dari kesan jikalau di kota kecil ini  ratusan tahun  silam telah terukir dan tercatat dalam sejarah bahwa pernah ada sebuah peradaban suatu Negara yang berbentuk Republik sebagai bukti eksistensi Cina perantauan kala itu. Tak hanya itu, kota ini juga adalah saksi berdarah  atas kekejaman tentara Jepang terhadap ribuan jiwa yang telah dibunuh dan dibantai secara brutal dan keji, sebelumnya akhirnya proklamasi kemerdekaan RI dan Indonesia Raya  dikumandangkan.

Republik Lan Fang Cikal Bakal Negara Singapura

Di negara Singapura keberadaan republik Lan fang telah direstorasi kembali melalui pameran miniature berbagai hal yang berkaitan dengan Republik Lan fang dimasa lalu, baik  miniature bentuk uang, menara perlindungan, lukisan-lukisan dan foto zaman dahulu serta membuat pargelaran puisi tentang perang kongsi yang kini bahkan telah menjadi agenda rutin Singapore Art fest yang dilakukan oleh warga singapura. Lucu memang, sejarahnya otentiknya berada di Kalimantan Barat, tetapi even budayanya justru oleh Negara Singapura. Meskipun memang keberadaan Negara Singapura tak terlepas dari Republik Lan fang ini, karena menurut catatan sejarah, usai keruntuhan Republik ini, warganya banyak yang mengungsi ke seberang atau ke Singapura, konon perdana Menteri Lee Kuan yu adalah keturunan dari pendiri republic Lan Fang ini.  Ringkasnya, awal mula berdirinya republic Lan fang ini adalah upaya dari seorang guru dari Kwantung- Cina daratan yang bernama Lo Fang Pak  untuk menyatukan para warga keturunan cina yang tersebar di wilayah Kalimantan barat yang pada masa itu adalah menjadi penambang-penambang emas yang tersebar dibeberapa kongsi. Mandor adalah salah satu lokasi tambang emas terbesar dan banyak kongsi kala itu selain Monterado-Bengkayang.  Republik Lan Fang mulai berdiri pada tahun 1777 abad ke-18, menyatukan 14 kongsi  dengan presiden pertamanya adalah Lo Fang Pak, disebut sebagai Negara Republik, karena pemilihan presidennya dilakukan secara demokratis,  punya undang-undang sendiri untuk mengatur berbagai aspek kehidupan rakyatnya, dari tata negara, hukum, ekonomi, pendidikan, dan sektor-sektor penting lainnya. Layaknya sebuah negara, Republik Lanfang telah dilengkapi dengan dewan pemerintahan, pengadilan, penjara, bahkan pasukan bersenjata ( La Ode, Etnis Cina Indonesia dalam Politik, 2012:229).

 Pemerintah Republik Lanfang hanya harus membayar upeti bulanan kepada dua Kesultanan Pontianak dan Sambas. Republik Lanfang juga mendapat pengakuan dari Dinasti Qing di Cina dan secara rutin mengirimkan upeti ke negeri asal mereka itu. Keberadaan  Republik Lanfang di Kalimantan Barat berlangsung cukup lama, hingga 107 tahun. Dalam kurun waktu selama itu dengan segala dinamikanya termasuk berpolemik dengan orang-orang Dayak, Kesultanan Landak, juga Mempawah, hingga mengekspansi tambang emas di wilayah lain, Republik Lanfang telah dipimpin oleh 13 presiden yang dipilih langsung oleh rakyatnya melalui pemilihan umum.
Kehancuran  Republik Lanfang mulai terlihat memasuki tahun 1880 seiring dengan semakin kuatnya pengaruh Belanda di Borneo, termasuk Kalimantan Barat.  Beberapa kongsi di Republik Lanfang yang tidak sepakat dengan perjanjian itu kemudian menyerang Belanda. Perlawanan ini berakibat fatal. Belanda menggempur Republik Lanfang dan berhasil ditaklukkan pada 1884. Presiden terakhir, Liu Ah Sin, tewas yang membuat Republik Lanfang mengalami kehancuran total (Hari Poerwanto, Orang Cina Khek dari Singkawang, 2005:137).Rakyat Republik Lanfang yang lolos dari serbuan Belanda beramai-ramai menyelamatkan diri dengan mengungsi ke pulau-pulau seberang. Sebagian orang Cina pelarian dari Republik Lanfang ini kemudian membangun kehidupan baru di suatu wilayah yang nantinya dikenal dengan nama Singapura. Berjalanlah diujung pasar Mandor, maka akan ditemui situs yang telah diwahanai dengan nama Taman Lan Fang, bukti  dari keberadaan jayanya republik ini dimasa lalu.

Saksi Bisu Pembantaian Dai Nipon

Makam juang Mandor adalah bukti tragedi kejahatan dan kekejian genosida  yang masih tersisa, penjajahan Jepang tergolong singkat, namun kekejamannya telah membinasakan tak kurang 21.035 jiwa  dalam kurun waktu 1943 – 1994, meskipun dari pihak Jepang menolak data tersebut dan menyebut angka 1000 jiwa saja (Wikepedia), namun korbannya adalah warga setempat yang tau pasti jikalau keluarganya telah hilang pada masa itu. Tragedi yang berawal dari kecurigaan tentara Dai Nippon-Jepang terhadap para tokoh-tokoh di kalbar yang ditenggarai akan melakukan perlawanan, maka dimulailah upaya pemberangusan itu. Media massa pada waktu itu Borneo Shinbun, Koran terbitan  jepang sebelumnya memang telah memberitakan bahwa akan ada pembumkaman terhadap tokoh lokal dan cerdik pandai yang dicurigai menentang dan membangkang terhadap kebijakan Dai Nippon sebutan tentara kekaisaran Jepang kala itu. Para tokoh yang terdiri dari lintas suku dan agama serta banyak juga rakyat jelata dijemput dikediaman mereka dengan alasan akan disekolahkan ke Jepang untuk yang masih muda serta alasan lainnya, penjemputan yang diperkirakan mulai tgl 28 juni 1943 hingga September 1944. Para korban ternyata dibawa di hutan belantara yang kini bernama desa mandor, sebelumnya para korban secara beramai-ramai diminta untuk menggali lobang selanjut diminta untuk menyembah matahari yang merupakan dewa Sinto agamanya para tentara jepang, lalu kepala mereka ditutupi atau disungkup selanjutnya di ekseskusi dengan cara dipenggal dan dikuburkan di lubang yang digali tersebut. Tragedi ini mulai terungkap pasca kemerdekaan, takkala Sultan Hamid 2 raja Pontianak mendapat informasi bahwa ada banyak pangeran dan tokoh masyarakat dan agama yang dibawa ke jepang untuk disekolahkan, namun setelah diselidiki hingga ke jepang ternyata tak ada satupun tokoh-tokoh itu yang bersekolah dijepang. Hingga pada suatu ketika warga yang berketurunan tionghoa melalui anjing peliharaannya menemukan ada banyak tulang-belulang disebuah kawasan hutan di mandor dan informasi ini sampai ke Sultan Hamdi 2 yang selanjutnya memerintahkan menelusuri dan memastikan bahwa tulang-belulang tersebut adalah korban  pembantaian tentara jepang yang terdiri para tokoh-tokoh yang pada masa itu dijemput dan dibawa. Pada penelusuran selanjutnya diketahui bahwa tak hanya para tokoh dan pemuka masyarakat yang dibawa tetapi juga para rakyat jelata juga banyak yang dibawa  dan terbunuh hingga diperkirakan yang dibunuh ditempat tersebut berjumlah kurang lebih 21.035 jiwa.  Detail cerita dan tragedi mandor berdarah ini tentunya akan lebih jelas jika dtanyakan kepada juru kunci atau penjaga makam yang menjaga dan memelihara makam juang itu.

Untuk mengenang tragedy berdarah tersebut  Pemerintah Daerah Kalbar telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda)  Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni Sebagai Hari Berkabung Daerah.

“ Tak Cukup Sekedar Anda Kenang, Tetapi Ku Harap Teruskan Semangat Juangmu, Untuk Memerangi Segala Bentuk Penjajahan.”

Kata-kata itu tertulis  dimonumen makam perjuangan Mandor, sangat dalam dan sarat makna, setidaknya para generasi berikutnya memahami bahwa kemerdekaan dan situasi saat ini ada karena sejarah masa lalu. Seperti kata Bung Karno, sang proklamator  “Jas Merah –jangan pernah melupakan sejarah” (Sht : dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *