PENEN DUIT ATAU PANEN BENCANA?

Beberapa waktu lalu ada spanduk yang kira-kira bertuliskan “tanah sawit sekarang, esok penen duit.”  Dan ada lagi judul buku: “Panen Bencana Kebun Sawit.” Lah kok gitu, ya? Dua pernyataan yang sangat bertolak-belakang.

            Perkebunan sawit mulai marak di Kalbar tahun 80-an. Mulai saat itu hampir semua kabupaten/kota di Kalbar ini ada kebun-kebun sawitnya. Kelapa sawit yang berasal dari Afrika dan dibawa ke Indnesia oleh Hindia-Belanda lamabat laun menjadi tanaman unggulan di Indonesia. Bahkan saking dahsyatnya hasil buah sawit berupa minyak mentah menjadi pengeksport terbesar  di dunia, selain Malaysia. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa industri sawit memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional. Sebab, ekspor komoditas sawit mencapai 12 persen dari ekspor nasional dengan total produksi pada 2016 mencapai 31 juta ton. Kontribusi ekspor sawit itu mencapai US$ 17,8 miliar atau senilai Rp 231,4 triliun dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 5,6 juta orang, yang berarti industri sawit merupakan sektor penting untuk dijaga keberlangsungannya. Guna mengejot penerimaan negara di sektor sawit Pemerintah Pusat mengucurkan subsidi untuk perusahaan-perusahaan kebun untuk membuat minyak sawit menjadi biodisel (minyak nabati untuk mesin, motor, mobil). Menurut data KPK ada sekitar 14,6 triliun rupiah  untuk 16 perusahaan yang menerima kucuran dana ini.

            Itu cerita ‘kaya’-nya,  cerita suksesnya kebun sawit. Tapi bagaimana dengan realitas di lapangan? Kalangan LSM dan pengiat lingkungan menyatakan bahwa kebun sawit membawa bencana eksistem yang dahsyat. Hutan alam dan lahan-lahan gambut dihancurkan untuk membuka kebun-kebun sawit. Sungai-sungai rusak parah. Flora dan Fauna Kalimantan banyak yang musnah. Banjir menggelami kampung-kampung dan kota-kota kecamatan di sekitar kebun sawit. Bukan hanya itu masyarakat adat mengalami ketidakadilan, karena tanah-tanahnya ada yang direbut paksa untuk perluasan perkebunan sawit. Bagi yang menolak tidak sedikit (bahkan banyak) aktivis dan anggota masyarakat adat dijeblokan ke jeruji besi. Tak sedikit suara-suara masyarakat adat terdengar miris dan hidup miskin di tengah-tengah kebun sawit yang menerima kucuran dana sampai triliunan. Tak sedikit buruh kebun sawit yang tidak dapat berbuat apa-apa karena jam kerjanya dikurangi sepihak oleh kebun sawit atau di PHK tanpa alasan jelas.

            Yang paling mengherankan lagi KPK merilis bahwa yang menguasai perkebunan sawit di Indonesia paling banyak adalah Group dari Malaysia dan Indonesia. Sebut saja diantaranya yeng terbesar Wilmar (Malaysia), Golden Hope (Malaysia), Sinar Mas (Singapura) dan Asian Agri (Singapura). Lagi kata KPK ada total 16 group perusahaan di Indoenia. 16 group usaha sawit ini menguasai 81% ekspor sawit Indenesia.  Itu artinya banyak tanah-tanah kita sudah dikuasai asing, kan?

            Kabar menghebohkan lainnya dari sektor sawit yaitu Parlemen Eropa akan menghentikan sama sekali (Zero) eskpor biodiesel dari Indoensia tahun 2021. Dampaknya pasti dahsyat bagi Indoesnia, terutama bagi petani dan buruh sawit. Harga buah bisa jadi akan turun. Alasan penghentian ekspor minyak sawit untuk biodisel karena Parlemen Eropa melihat banyak kegiatan perkebunan sawit yang melangggar hak asasi manusia, ketidakadilan yang dialami masyarakat adat dan menghancurkan hutan, sungai dan memusnahkan banyak ekosistem lainnya. Untuk mempertimbangkan maksud Parlemen Eropa menghentikan ekspornya dari Indoensia, Pemerintah Indonesia menyurati Vatikan untuk  memohon bantuan untuk mengingatkan Parlemen Eropa agar mencabut kebijakan tersebut, sebab banyak sekali rakyat Indonesia yang tergantung dengan perkebunan sawit.

            Sesungguhnya kita tidak menolak hadirnya perkebunan sawit. Namun kiranya yang menjadi persoalan saat ini adalah tata kelola kebun. Tata kelola kebun mestinya mensejahterakan rakyat di sekitar kebun, melindungi lingkungan hidup, dan tidak melanggar hak-hak masyarakat adat atau lokal. Sudah saatnya perusahaan sawit berubah. Dunia ini sudah sangat terbuka. Apa yang terjadi disini hari ini diketahui dalam waktu singkat dibelahan lain dunia ini.  Mestinya sawit membuat kita sejahtera/kaya, bukan justru bencana. Kita tunggu perubahahan itu. Kita tunggu tata kelola yang baik. Semoga ya!.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *