NASIONALISME semu BANGSA PEKERJA

Kisah pekerja di Indonesia adalah sejarah panjang. Soekarno merangkum dialektika itu dalam Marhaneisme yang ia kumandangkan sebagai ideologi pekerja yang di sesuaikan dengan Pancasila. Entah bagaimana ia diterjemahkan, namun di masa Orde Baru pemikiran ini diberangus dan negara ini segera menjadi ruang terbuka terhadap modal kapital asing yang raksasa. Modal dan investasi tentulah menyelenggarakan banyak sekali peluang kerja dan tentu saja tenaga kerja produktif.

Hari terakhir kini kita kembali dihebohkan dengan isu tenaga kerja asing ditengah giatnya Jokowi melakukan program kerjanya. Itupun sesungguhnya bukan barang baru, tapi bisa digoreng menjadi komoditas politik menjelang musim pemilihan sebentar lagi.  Di Kalimantan Barat Kesultanan Sambas sejak 1740 mendatangkan buruh murah dari Tiongkok dan di pekerjakan di pertambangan emas oleh Sultan. Sebabnya lagi-lagi bahwa pekerja Tionghoa itu punya teknologi tambang yang lebih baik dibandingkan pekerja Dayak dan Melayu saat itu. Jadi kondisi ini memang bukan kisah baru, ia mungkin adalah bagian dari simbiosis mutualisme global berkaitan dengan investor, peluang, modal dan laba.

Namun yang terjadi berikutnya adalah bagaiamana Indonesia menjadi ladang bagi industri kapital untuk mendapatakan tenaga kerja murah dan meriah sejak rezim Soeharto hingga saat ini di era Joko Widodo. Suka atau tidak membicarakan soal perburuhan ini tak terlepas juga dari masa kolonial yang memang memanfaatkan sumber daya manusia terjajah ini menjadi pekerja yang loyal dan bersedia di upah murah.  Sebab buruh adalah  faktor produksi yang penting dalam struktur industri dan gairah fiskal kolonial maupun Negara saat itu. Biaya yang minimalis untuk mencapai efektivitas dan efisiensi produksi bagi perusahaan.

Hampir semua waktu pekerja digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Begitu sibuk menyusun sebuah kehidupan sehingga hampir tak memiliki waktu tersisa bahkan untuk menikmatinya. Anda mungkin termasuk beruntung apabila memiliki beberapa sumber pekerjaan. Tetapi setiap saat entah sekarang atau nanti selalu akan datang kelesuan, setiap tahun dan di setiap Negara (termasuk Indonesia) terdapat pengangguran dan pemecatan ribuan orang dari pekerjaannya. Persoalan-persoalan normatif menyangkut “kerja” di Indonesia sampai saat ini masih terkait dengan sempitnya peluang kerja, tingginya angka pengangguran, rendahnya SDM tenaga kerja, upah murah dan jaminan sosial yang seadanya. Lalu perlakuan yang merugikan bagi para pekerja seperti penganiayaan, tindak asusila, penghinaan, intimidasi sampai pelecehan seksual. Akhirnya banyak warga negara Indonesia yang menjadi tenaga kerja di luar negeri dan ini pun menyisakan masalah dengan kurangnya perlindungan dan pengawasan dari negara terhadap para tenaga kerja tersebut. Kasus demi kasus terjadi.

Jika buruh adalah pekerja, dan dengan kerja itu dia berhak mendapatkan upah, kita semua bisa disebut buruh. Pemahaman ini bisa menjadi terlalu sederhana jika kita melihat betapa kompleksnya dimensi kerja dan upah di Negara bangsa-bangsa ini. Karena tak ada satupun manusia yang serba bisa, ia dan kita selalu memerlukan manusia lain sebagai pelangkap kebutuhan hidup yang beragam dan tak pernah berhenti menginginkan.

Satu Mei (May Day) baru saja dilewati dengan insiden di Yogyakarta dan deklarasi KSPI mendukung salah satu kandidat Presiden. Di tengah seluruh dinamika itu tenaga kerja Indonesia (juga Kalimantan Barat) tak bisa cuma menjadi progresif oleh ketidak adilan yang dirasa, tetapi juga harus menjadi elemen terdidik dan kelas menengah yang punya nilai tawar keahlian dan posisi strategis dalam menentukan nasib sendiri, seperti yang diserukan oleh alm.Marsinah dan cuplikan puisi Widji Thukul yang hilang hingga kini dan menjadi semangat perlawanan rakyat pekerja:

                Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan

dituduh subversif dan menggangu keamanan

maka hanya ada satu kata: lawan!

Iwan Djola, 2 Mei 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *