Cerita Dari Desa

Desa Parek Merangkak Bangkit Di Tengah Keterbatasan

Jauh terpencil dipenghujung Ibu kota kecamatan dan kota kabupaten, Desa Parek mulai bangkit merangkak membangun wilayahnya. Manfaat kucuran alokasi dana pasca diberlakukannya UU Desa No.6  Tahun 2014  mulai dirasakan betul oleh masyarakat di pedesaan, ujar Lorensius, SE  Kepala Desa Parek, ketika bertandang di kantor Majalah Mata Borneo, Senin (16/10) lalu, didampingi Bendahara Desanya. Kades muda yang belum setahun menjabat sebagai Kepala desa ini, terlihat bersemangat dan antusias bertutur mengenai sepak terjangnya dalam membangun wilayah desanya meneruskan estafet kepemimpinan Kades terdahulu. Dilantik tanggal 28 Oktober 2016 dan akan berakhir tahun 2022 nanti, tentunya memberikan ruang gerak yang cukup bagi Kades muda yang energik ini memimpin pembangunan di desanya. Desa Parek yang dipimpinnya terletak di kecamatan Air Besar, kabupaten Landak, Provinsi Kal-Bar. Dengan luas desa 143,40 Km2. Jumlah Penduduk 464 KK dengan jumlah 1.035 Jiwa. Dengan Rumah tangga miskin berjumlah 109 KK tersebar di Dua Dusun, yaitu Dusun Sebiau Jangkak dan Dusun Padang Bengawan. Ditahun 2017 ini, alokasi dana desa yang diterima desa Parek adalah sebesar Rp, 1,2 Milyar, kucuran Dana Desa, ADD, serta bagian dari PDRD Kabupaten.

Dikatakan oleh Loren, hingga saat ini dana telah terserap 60%, diperuntukkan untuk kegiatan fisik seperti pembuatan Pusat Listrik Tenaga Mikro Hidryo (PLTMH), Steher (tempat Mandi warga di sungai), bangunan PAUD, Poskamling, kegiatan pemberdayaan seperti pelatihan anyaman, pembenihan ikan air tawar serta pelatihan pembibitan Lada. “Hingga saat ini belum ada kendala dalam proses pengelolaan dan penyaluran dana, masyarakat bisa mengetahui pagu dana serta peruntukkannya, karena ada papan proyek yang memuat informasi kegiatan. Bahkan masyarakat di desa sangat antusias terlibat dalam proses pembangunan yaitu ikut bergotong royong, sehingga biaya menjadi ringan” ujar Kades yang aktif di Medsos ini.

Sebagai Kades yang baru, Lorensius termasuk kades yang aktif jemput bola mendatangkan berbagai program dari dinas dan instansi dari kabupaten ke desanya. Seperti mendatangkan dinas Dukcapil melakukan perekaman E-KTP , pelatihan ketrampilan dari Perindagkop, hingga mendapatkan bantuan 60 unit rumah layak huni dari Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman Dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) kabupaten. 

Diakui oleh Loren, jikalau Infrastruktur jalan ke kota kecamatan dan kabupaten merupakan kendala yang mengucilkan desanya, bahkan aktiviitas perekonomian warganya lebih banyak ke kabupaten Bengkayang, karena lebih dekat dibandingkan ke kota Ngabang. Hasil pertanian dan kebun warga, seperti  getah latek, Lada atau Sahang dijual ke pasar Bengkayang, demikian pula halnya barang-barang kebutuhan pokok warga. Harapannya bersama warga adalah infrastruktur jalan dan jembatan yang mulus hingga mempermudah aktivitas lalu lintas barang dan orang, tidak seperti saat ini, jalan berkubang lumpur dikala musim hujan yang ujungnya adalah biaya tinggi dan menyulitkan warga.

Terkait dengan data profil desa yang masih kurang, inisiatif perangkat desa  yang belum ada dalam mengusulkan Perdes, hingga  belum adanya upaya merancang BUMDES untuk menambah pendapatan Desa, diakui oleh Loren merupakan tugasnya ke depan yang harus diselesaikannya. (MB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *