CU Nyata Berdayakan Masyarakat Tanpa Pandang Bulu

Tak dapat dipungkiri kalau hampir sebagian masyarakat telah mengenal yang namanya CU atau Kredit Union, ada istilah kalau mau menabung atau perlu pinjam duit ya ke CU. Tak ayal ber CU kini menjadi suatu kebutuhan dari masyarakat khususnya warga yang berada dipedalaman Kalimantan barat , ini dapat dilihat dari keberadaan CU yang telah menyebar keseluruh pelosok Kalimantan Barat dengan adanya tempat pelayanan atau sentra CU yang menjangkau hampir semua kecamatan, hingga kecamatan terpencil sekalipun tempat pelayanan CU akan dengan mudah kita temui.

            Nun jauh dipelosok diujung Hulu Sungai Kabupaten Sintang, Kecamatan Ambalau atau kecamatan Serawai, dimana untuk menjangkau lokasi di dua kecamatan ini membutuhkan waktu 6 hingga 8 jam menggunakan Speed Boat atau Bodi Terbang istilah masyarakat setempat, aktivitas keuangan warga sangat ditunjang oleh keberadaan CU, ditempat terpencil yang jauh dari pusat ibu kota kabupaten ini, keberadaan CU nyata berperanan besar dalam mendukung aktivitas ekonomi warga. Sepertinya Lembaga keuangan yang dikenal oleh masyarakat setempat tiada lain hanya CU semata, ini dimaklumi karena Perbankkan memang belum menyentuh warga sekitar yang memang terlalu jauh dari jangkauan transportasi.

            Tingginya minat masyarakat untuk berCU (baca: menjadi anggota CU), tidak lepas dari perjuangan para aktivis atau penggiat CU itu sendiri yang secara intens sangat rajin mensosialisasikan keberadaan CU kepada masyarakat sekitarnya, serta semakin banyak warga yang menjadi anggota CU yang kesejahteraannya bertambah baik, hal inilah yang menjadi daya tarik bagi masyarakat lainnya untuk ikut ber CU, hingga tak ayal hampir semua warga masyarakat kalimantan barat menjadi anggota CU, apa lagi warga yang berada dipedalaman dimana Tempat Pelayanan CU memang tersedia.

            Pemaparan salah satu aktivis CU,  Yohanes Paulus Woda, SP, mungkin dapat menjadi gambaran bagaimana tingginya minat masyarakat dalam berCU, menurut Paulus Woda, Manager CU Pancur Kasih TP Ngabang ini, setiap harinya rata-rata masyarakat yang mendaftar di Tempat Pelayanan (TP) CU Pancur Kasih Ngabang adalah 50 orang tiap bulannya dari target mereka yaitu 80 orang, itu hanya di TP CU Pancur Kasih, sementara untuk CU lainnya yang berada di kota Ngabang cukup banyak, hal yang sama juga terjadi di kota-kota lainnya. CU ternyata tidak hanya diminati oleh masyarakat pedalaman yang jauh dari Bank tetapi juga memikat warga perkotaan yang telah akrab dengan dunia Perbankkan, hingga keanggotaan CU sangatlah beraneka profesi dari kelas petani, pegawai negeri, pedagang maupun pengusaha. CU terbukti bukan hanya menjadi alternatif dalam hal solusi keuangan, tetapi kini telah menjadi solusi keuangan bagi masyarakat yang menjadi anggotanya.

            Frans Yodian, AmaPd, salah seorang warga masyarakat yang juga merupakan anggota salah satu CU, menuturkan bahwa sejak menjadi anggota CU, kesejahteraannya mulai membaik, khususnya dalam hal pengelolaan keuangan. Kesejahteraan tidak hanya dirasakan olehnya, tetapi juga merata dirasakan oleh para anggota lainnya. Tidak mengherankan menurut Frans, kalau di desanya, yaitu Desa Behe Angkaya, kecamatan Kuala Behe Kabupaten Landak,  75% warganya telah menjadi anggota CU. Diungkapkan oleh Frans, melalui CU para masyarakat dengan mudah memupuk aset, baik itu pembelian Rumah, Kendaraan Mobil, Motor maupun membuka perkebunan. “Orang-orang kampung sekarang rata-rata memiliki motor, bahkan kendaraan angkutan maupun mobil strada, semuanya itu dimungkinkan melalui CU, dalam hal itu CU bertindak sebagai Pembiaya. Memang dengan adanya CU masyarakaat sangat terbantu perekonomiannya, sangat nampak kesejahteraannya dibandingkan sebelum berCU” tutur Frans.

CU Mengubah Perilaku Dan Pola Pikir

            Pekerjaan yang paling berat untuk sebagian orang adalah Menabung, begitu susahnya, bahkan butuh niat dan kemauan yang luar biasa kerasnya untuk mewujudkan yang namanya “Menabung”, karena menyisihkan sebagiaan pendapatan untuk sebagian masyarakat kita belumlah membudaya. Justru yang ada adalah penghasilan tak pernah cukup, alias besar pasak dari pada tiang, peribahasa yang menggambarkan budaya hidup boros atau perilaku konsumtif masyarakat kita.

            Itu dulu, ketika masyarakat belum mengenal CU, dimana menabung hanya di Celengan atau di bawah Bantal, karena tidak ada Bank atau jauhnya Kantor POS, atau lebih parahnya memang menabung belum terbiasa. Namun dengan kehadiran CU, masyarakat kini mulai terbiasa menabung, menyisihkan sebagian uang yang mulanya adalah kewajiban atau keharusan, kini berganti dengan suatu kebutuhan. Ini nampak dari besarnya tabungan anggota dalam berbagai produk yang ada di CU-CU, terlihat pelan namun pasti kesadaran dari masyarakat yang tak paham menabung menjadi masyarakat yang butuh menabung, karena menyadari pentingnya kalau masih ada hari esok.

            Peranan CU membentuk anggotanya menjadi terbiasa menabung adalah melalui produk Pinjaman Investasi, dimana setiap anggota baru diperbolehkan meminjam uang untuk ditabungkan kembali sebagai tabungan anggota yang bersangkutan, selanjutnya anggota bersangkutan mencicil pinjaman tersebut hingga selesai. Cara ini cukup efektif mendisiplin anggota untuk mulai menabung, ini terbukti besarnya dana tabungan masyarakat yang terserap di CU.  Salah satunya CU Pancur Kasih Ngabang yang merupakan CU pertama mampu menghimpun dana Puluhan Milyar rupiah dengan keanggotaan yang terus meningkat tiap bulannya, dana yang terhimpun kurang lebih 76,973 Milyar untuk tahun berjalan sekarang ini, dengan keanggotaan 6117 orang.

            Manager CU Pancur Kasih TP Ngabang, Yohanes Paulus Woda, SP, mengungkapkan bahwa dengan berCU anggotanya diharapkan mampu mengubah pola pikir dan perilaku, khususnya dalam mengelola keuangan rumah tangga sehinga kesejahteraan dapat dirasakan oleh anggota yang bersangkutan. “Jika prilaku dan budaya menabung telah tertanam dengan baik, niscaya pengelolaan keuangan keluarga lebih terjamin, untuk selanjut dapat merencanakan masa depan yang lebih baik” ungkapnya seraya tersenyum.

            Disamping membangun perilaku positif menabung, sebagian anggota CU juga telah cukup banyak sukses mengembangkan usaha baik dalam bidang pertanian, perdagangan maupun perkebunan serta usaha skala mikro lainnya. CU atau Credit Union memang terbukti mampu mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat, sangatlah wajar jika dikatakan CU berada dibalik pemberdayaan ekonomi rakyat. Meminjam istilah teman yang secara bercanda berkelakar “Kalau angint CU, angint bah na mampu mali ape-ape, ape gik na mali oto/Kalau tidak ada CU, Mana Mungkin Mampu Beli ini itu, apa lagi beli Mobil”  kelakarnya. (L. Sahat T)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *